>

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“…akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaisirah –ed) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan hidup (tidak membunuh) orang-orang kafir. Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum’ ‘Ad.”
(Muttafaq ‘Alaihi).
Bukan hanya Kartosuwirjo, DI/TII juga memiliki tokoh-tokoh lain yang memimpin pemberontakan di daerahnya masing-masing. Mereka memang berkiblat kepada Kartosuwirjo yang menjadi pimpinan tertinggi gerakan tersebut dan berkedudukan di Jawa Barat (istilahnya, Kartosuwirjo adalah waliyul amri menurut keyakinan mereka). Berikut adalah tokoh-tokoh DI/TII di berbagai daerah yang turut memproklamasikan DI/TII dan bergabung dengan kepemimpinan Kartosuwirjo:
1. Amir Fatah (DI/TII Jawa Tengah).
Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh “orang-orang Kiri”, dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya
pengaruh “orang-orang Kiri” tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo.
2. Kahar Muzakar (DI/TII Sulawesi Selatan).
Pada tanggal 17 Agustus 1953 Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sulawesi Selatan, Abdul Kahar Muzakar memproklamasikan penggabungan pasukan-pasukan dan daerah yang dikuasainya ke dalam  Negara Islam Indonesia (NII) dibawah pimpinan S.M. Kartosuwirjo. Pemberontakan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan Kahar Muzakkar kepada pemerintah agar pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan dimasukkan ke dalam Angkatan Perang RIS (APRIS). Tuntutan ini ditolak karena harus melalui penyaringan. Dalam perkembangannya, gerakan ini banyak melakukan serangkaian teror dan ancaman kepada masyarakat di sekitarnya.
3. Ibnu Hajar (DI/TII Kalimantan Selatan).
Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pospos kesatuan TNI. Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hajar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota TNI. Ibnu Hajar pun menyerah, akan tetapi setelah menyerah melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi. Selanjutnya pemerintah mengerahkan pasukan TNI sehingga pada akhir tahun 1959 Ibnu Hajar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dimusnahkan.
4. Daud Beureuh (DI/TII Aceh).
Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan “Proklamasi” Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian “Negara Islam Indonesia” di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.
Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai “Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh” sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil mempengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.
Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan TNI segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu ” Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh” pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jassin.
Secara umum, gerakan DI/TII berhasil ditumpas oleh aparat pemerintah Republik Indonesia melalui serangkaian operasi yang dilancarkan oleh TNI. Kecuali DI/TII Aceh pimpinan Daud Beureuh, kebanyakan pemberontakan ini berakhir dengan kematian tokoh pimpinannya, baik tertembak maupun dihukum mati melalui proses peradilan. Kebanyakan para pengagum dan pendukung gerakan DI/TII menyebut bahwa mereka yang tertembak maupun dihukum mati itu adalah syahid karena mereka mati di tangan pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Alloh bahkan cenderung berkiblat kepada negara Komunis.
Ungkapan tersebut sebenarnya bisa dibantah dari beberapa sisi, yaitu:
1. Bila pemerintahan RI tidak berhukum dengan hukum Alloh ataupun dianggap menjadi kaki tangan kuffar, baik Belanda sendiri maupun Komunis, maka kita bisa ambil dua buah hadits yang bisa membantah ungkapan ini.
Hadits pertama:
Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah bekas budak dari Habasyah, Yang kepalanya seperti kismis, selama dia menegakkan kitabulloh di antara kalian.”
(HR. Bukhari).
Hadits Kedua:
Dari ‘Adi bin Hatim rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Kami berkata, “Ya Rosululloh, Kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekan-kejelekan),” Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Bertakwalah kalian kepada Alloh, mendengar dan taatlah kalian.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam “Adzdzilal”).
2. Bila kebijakan pemerintah RI disalahkan karena memberangus gerakan DI/TII yang mereka anggap sebagai perjuangan untuk menegakkan syari’at Islam di bumi Nusantara. Kita bisa ambil bantahan bahwa gerakan tersebut adalah gerakan makar untuk melawan pemerintahan yang sah. Mereka memulainya dengan pembangkangan terhadap perintah untuk pindah ke Yogyakarta. Kemudian berlanjut dengan melakukan teror dan ancaman kepada masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Bahkan tak satupun sumber yang menyebut bahwa mereka berperang menghadapi Belanda. Tetapi malah mengganggu dan menyerang TNI.
Hal ini sejalan dengan hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, “Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan hidup (tidak membunuh) orang-orang kafir.”
Adapun tindakan penumpasan terhadap gerombolan DI/TII adalah tindakan yang dapat dibenarkan oleh syari’at mengingat gerakan tersebut termasuk dalam katagori Neo-Khawarij. Dailnya adalah Sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu:
“Maka jika kalian mendapati mereka (khawarij), perangilah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Alloh pada hari kiamat).”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
Beliau juga bersabda, dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu:
“Jika aku mendapati mereka (khawarij), benar-benar aku akan perangi mereka seperti memerangi kaum ‘Ad –dalam riwayat lain- seperti memerangi kaum Tsamud.”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
Hal ini senada dengan Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ
“Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin dan bersikap keraslah terhadap mereka. ” (QS. At Taubah: 73).
Dan perhatikan juga riwayat berikut ini, Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah (sekte Khawarij yang dipelopori oleh Nafi’ bin Al Azraq) dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umammah Al Bahili rodhiyallohu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya (dan berkata):
“Anjing-anjing neraka, Anjing-anjing neraka, Anjing-anjing neraka! Mereka ini (Khawarij Azariqah) sejelek-jelek orang yang dibunuh di kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah kolong langit ini adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij Azariqah).”
Abu Ghalib kemudian bertanya, “Ada apa denganmu hingga air matamu mengalir?”
Abu Umammah menjawab, “Karena kasihan kepada mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul Islam.”
Abu Ghalib berkata lagi, “Apakah pernyataanmu ‘Mereka itu anjing-anjing neraka’ adalah pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar sendiri dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam?
Abu Umammah menjawab, “Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh betapa beraninya aku. Tapi (ketahuilah) perkataan seperti itu aku dengar dari Rosululloh tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua atau tiga kali.”
(HR. Imam Ahmad (Musnad, V/253), Ibnu Majah (no. 176). Dalam Al Jami’ush Shaghir (I/201) disebutkan bahwa Abu Ghalib adalah rawi yang haditsnya hasan, sehingga Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rohimahulloh menyebut hadits ini jayyid. Adapun Asy Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Shahih Sunan Ibni Majah).
Mengenai gerakan penegakkan syari’at Islam di bumi Nusantara, perlu diingat bahwa Tauhid adalah prioritas utama dan pertama dalam berdakwah. Jika kalian meyakini bahwa penegakan Syari’at tersebut harus didahulukan, maka apakah kalian menganggap Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah salah strategi ketika mengutus Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ‘anhu ke Yaman untuk mendakwahkan Tauhid? Sebagaimana Sabda Beliau:
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka ialah syahadat laa ilaaha illalloh (tiada sesembahan yang haq melainkan Alloh) –dalam riwayat lain , “agar mereka mentauhidkan Alloh.”.”
(HR. Bukhari dan Muslim). 
Dan juga kalian telah mengabaikan Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah Thaghut.” (QS. An Nahl: 36)
Juga nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya sebagaimana disebutkan dalam Firman Alloh:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Alloh) sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”” (QS. Luqman: 13).
Cukup dua ayat dan satu hadits yang menunjukkan bahwa Tauhid adalah yang pertama kali harus didakwahkan kepada umat dan merupakan prioritas utama dalam berdakwah. Adapun Daulah Islamiyah, sebagaimana yang kalian cita-citakan, tidaklah akan pernah terbentuk melainkan seluruh komponen masyarakatnya sudah benar-benar dalam menjalankan ajaran Islam. Tidak ada lagi yang berbuat syirik, tidak ada lagi bid’ah, dan semua sudah mengikuti manhaj salafus sholih yang terbimbing dan lurus. Jika semua itu telah terlaksana maka dengan sendirinya daulah Islam akan terbentuk, tanpa harus ada gerakan makar seperti DI/TII. Wallohu A’lam.
Referensi:
About these ads