Upaya Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Leave a comment

oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

 

Upaya amar ma’ruf nahi munkar harus memenuhi beberapa kriteria penting, di antaranya adalah:
1. Penentuan bahwa perkara yang mungkar itu memang benar-benar mungkar secara ilmiah menurut ketentuan Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga apa yang dinilai oleh Al Qur’an dan As Sunnah sebagai perkara ma’ruf, maka itu adalah ma’ruf. Sebaliknya apa yang dinilai oleh Al Qur’an dan As Sunnah sebagai perkara mungkar, maka itu adalah mungkar. Bukan menurut kepentingan hawa nafsu atau perasaan orang per orang.

Prinsp Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Leave a comment

oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

Salah satu prinsip terpenting dalam agama ini adalah prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Yang dengan tegas diperintahkan oleh Alloh Ta’ala di dalam ayat-Nya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar); merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imraan: 104).
Prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini adalah salah satu kelebihan umat Islam dibandingkan umat yang lain, yang menjadikan mereka sebagai umat terbaik. Alloh Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta kalian beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imraan: 110).

More

Penjelasan Surat Al Maa’idah ayat 3 tentang Islam yang Sempurna (bagian 3-habis)

Leave a comment

oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

 

Agama yang telah lengkap dan terjaga tersebut senantiasa terjaga dan lestari hingga akhir zaman. Bahkan Alloh Ta’ala langsung yang menjamin terjaganya dien ini, sebagaimana Alloh tegaskan di dalam Firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al Hijr: 9).
Maka agama yang telah lengkap dan sempurna ini diwarisi dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam oleh para shahabatnya, kemudian murid-murid mereka, dan seterusnya di setiap masa diwarisi oleh para ‘ulama dari kalangan ahlul hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah pewaris para Nabi, sebagaimana disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam di dalam haditsnya:

“Sesungguhnya para ‘ulama itu adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut, sungguh ia telah mendapat bagian yang sangat besar.”

(Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, no. 3641).

More

Penjelasan Surat Al Maa’idah ayat 3 tentang Islam yang Sempurna (bagian 2 dari 3 tulisan)

Leave a comment

oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

Makna ayat ini dipertegas oleh dua hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alahii Wa Sallam, yang salah satunya bersifat lebih khusus, dan yang kedua bersifat lebih umum. Kedua hadits tersebut adalah:

“Dari Abi Najih Al ‘Irbadh bin Sariyah, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan nasihat kepada kami dengan sebuah nasihay yang menggetarkan hati dan meneteskan air mata. Maka kami berkata: “Wahai Rosululloh, seolah-olah ini adalah nasihat untuk orang yang akan berpisah. Maka berilah kami wasiat.” Maka Rosululloh berkata: “Aku mewasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Alloh, dan selalu mendengarkan dan taat (kepada penguasa), sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari negeri Habasyah (Ethiopia -red). Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku pasti akan mendapati perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para al Khulafaa-ur Raasyidiin yang telah mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama), karena sesungguhnya perkara yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat. [Dalam riwayat lain]: dan setiap kesesatan itu di neraka.”

(Riwayat Abu Dawud (4596, 4597), At Tirmidzi (2642), Ibnu Majah (3990), Ad Darimi (II/241), Ahmad (IV/102, II/332), Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah (II/108/2, 119/1), Al Laaikaa’i di Syarhus Sunnah (I/23/1), dan selainnya. Dishahihkan oleh Al Albani di dalam Ash Shahiihah no. 203, 204, 1492) [1]

Penjelasan Surat Al Maa’idah ayat 3 tentang Islam yang Sempurna (bagian 1 dari 3 tulisan)

Leave a comment

oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kami sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah ku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)
Berkata Al Imam Malik rohimahullohu ketika menjelaskan tentang ayat ini:

“Suatu perkara yang bukan bagian dari agama  pada hari itu, maka pada hari ini pula bukan bagian daripada agama.”

More

>Contoh Pergerakan Khawarij (3): Menebar Syubhat Ketika Melakukan Pemberontakan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib (Bagian 2-Habis)

Leave a comment

>

oleh: Jamal bin Furaihan Al Haritsi hafizahullohu
Telah diriwayatkan pula oleh Al Imam Ath Thabari pada III/4 dari Abdul Malik bin Abi Hurrah Al Hanafi, dia berkata:

“Bahwa Khalifah Ali pada suatu hari keluar dalam rangka berkhutbah. Tiba-tiba ketika beliau berkhutbah, (terdengar) seruan untuk berhukum dengan hukum Alloh yang dilakukan oleh kelompok Khawarij di sekitar masjid.”

Maka Khalifah Ali Menjawab, “Allohu Akbar! Sesungguhnya itu adalah ucapan yang benar, namun diinginkan dengannya suatu kebatilan…..”

Tiba-tiba melompatlah seseorang yang bernama Yazid bin Ashim Al Muharibi seraya berkata:

“Alhamdulillah, kami tidak pernah meninggalkan Robb kami dan tidak pernah pula kami merasa tidak butuh kepada-Nya. Wahai Ali, apakah engkau akan mengancam kami dengan pembunuhan! Demi Alloh ketahuilah sesungguhnya kami berharap bisa melemparkanmu ke neraka dalam waktu dekat tanpa ada maaf lagi. Pasti kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pantas masuk ke neraka.”

Kemudian orang tersebut keluar bersama tiga orang kawannya dan ternyata mereka terbunuh bersama kelompok Khawarij dalam peristiwa An Nahr dan salah satu diantaranya juga terbunuh dalam peristiwa An Nukhailah
Diambil dari buku “Mengidentifikasi Neo Khawarij sebagai Sejelek-Jelek Mayat di Kolong Langit.” Pustaka Qoulan Sadida Malang. 

>Contoh Pergerakan Khawarij (3): Menebar Syubhat Ketika Melakukan Pemberontakan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Leave a comment

>

oleh: Jamal bin Furaihan Al Haritsi hafizahullohu. 
Diriwayatkan oleh Al Imam Ath Thabari dalam kitab Tarikh karya beliau III/113-114, dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika hendak mengutus Abu Musa Al Asy’ari dalam rangka penentuan hukum perselisihan yang terjadi, maka didatangkanlah dua orang dari anggota kelompok Khawarij kepadanya. Kedua orang ini bernama Zur’ah bin Al Burj Ath Tha’i dan Hurqush bin Zuhair As Sa’di. Kemudian keduanya masuk menemui Khalifah Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Alloh!”

  • Khalifah Ali menjawab, “Benar, memang tidak ada hukum kecuali milik Alloh.”
  • Hurqush mengatakan, “Bertaubatlah engkau wahai Ali dari dosa-dosamu! Dan rujuklah kamu dari keputusanmu!”
  • Zur’ah bin Al Burj pun berkata kepada beliau, “Demi Alloh, ketahuilah wahai Ali! Kalau seandainya engkau tetap berhukum kepada hukum manusia dalam urusan yang telah ditentukan dalam Al Qur’an maka pasti aku akan memerangimu dengan penuh mengharap wajah Alloh dan ridha-Nya!”
  • Khalifah Ali menjawab, “Celakalah kamu! Betapa jeleknya kamu!! Apakah kau anggap aku akan menjadi korban pembunuhanmu dengan semudah itu?!”
  • Zur’ah menjawab, “Ya. Bahkan aku berharap itu semua terjadi. 
  • Khalifah Ali menjawab, “Kalau seandainya aku berada di atas kebenaran, maka kematian di atas al Haq adalah sebagai peristirahatan dari keduniaan. Sesungguhnya syaithan telah menyesatkan kalian. Takutlah kalian kepada Alloh, sesungguhnya tidak ada sedikit pun kebaikan bagi kalian jika kalian berperang karena didasari perkara duniawi. 
Diambil dari buku “Mengidentifikasi Neo-Khawarij sebagai Sejelek-Jelek Mayat di Kolong Langit.” Pustaka Qoulan Sadida Malang. 

Older Entries