>

Jika kita berbicara tentang pembangkangan, pastinya yang akan terpikir adalah pemberontakan, revolusi, kudeta atau penggulingan, dan yang semacamnya. Pembangkangan ini adalah salah satu cikal bakal terjadinya aksi teror dan peledakan bom. Kita tentu saja sudah sering mendengar berita-berita telah terjadi pemberontakan di suatu daerah, dimana ada seorang yang sering disebut sebagai penggerak lalu menyeru dan mempengaruhi orang untuk melepaskan ikatan ketaatan terhadap penguasa di daerah itu. Apa yang kemudian terjadi? Jelas dan sangat jelas banyak orang terpengaruh dan mendukung gerakan pembangkangan itu. Ujung-ujungnya terjadilah apa yang sering kita dengar sebagai kudeta.
Keadaan seperti ini membawa kita ke dalam kondisi ketidakpastian. Contoh nyata bisa kita lihat dan rasakan sendiri (mungkin sebagian dari kalian masih balita pada waktu itu) kondisi di negeri kita tahun 1998. Tumbangnya kekuasaan seorang Jenderal besar yang telah memimpin negeri ini selama kurang lebih 30 tahun. Kondisi negeri kita penuh dengan ketidakpastian dan serba mencekam. Mau pergi keluar, entah sekolah, bekerja, atau ngaji, menjadi nggak tenang. Takut sesuatu menimpa diri kita. Tahukah kamu bahwa sebenarnya, pembangkangan ini sudah pernah terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam??

Peristiwa Dzulkhuwaishirah. 

Siapakah pembangkang pertama dalam sejarah Islam? Jawabannya adalah Dzulkhuwaisihrah. Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, bahwa dia berkata,
“Ketika kami berada di sisi Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam di saat beliau sedang membagi harta rampasan perang, datang kepadanya seorang yang dikenal dengan Dzulkhuwaishirah, dia adalah seorang dari qabilah Bani Tamim. Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rosululloh berbuat adilah!”
Maka Rosululloh menjawab, “Celakalah engkau, siapa lagi yang bisa berbuat adil kalau aku sendiri sudah tidak berbuat adil?”
(HR. Bukhari, no. 3414 dan 5811).
Dzulkhuwaishirah ini adalah orang pertama dalam Islam yang berani menentang waliyyul amri Muslimin. Dalam kesempatan tersebut dia telah berani menentang Rosulullloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Tidaklah dia melakukan hal itu kecuali didasarkan atas keyakinannya bahwa wajib atas dirinya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (Catatan: Insya Alloh nanti akan ada pembahasan khusus di blog/rumah belajar ini tentang “amar ma’ruf nahi munkar”).
Jadi, apa yang pernah kita alami dan kita rasakan di zaman ini, baik pada tahun 1966 di masa bapak, ibu dan nenek kakek kita, ataupun pada tahun 1998 semuanya itu hanyalah pengulangan dari sejarah pembangkangan oleh Dzulkhuwaishirah itu. Ya, memang kadang sejarah itu mengulang lagi dirinya. Ingatkah kita bahwa perselisihan dua negeri Islam di timur (Indonesia dan Malaysia) tahun 1962 juga tak lebih dari pengulangan sejarah perselisihan antara Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyyah bin Abu Sofyan rodhiyallohu ‘anhu, bahkan ketika itu sampai pecah peperangan. Wallohu A’lam.
Referensi:
Al Haritsi, Jamal bin Furaihan. 2007. Mengidentifikasi Neo-Khawarij sebagai Sejelek-jelek Mayat di Kolong Langit (diterjemahkan dan dijelaskan oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh). Pustaka Qaulan Sadida – Malang.
Daftar Istilah (Glossary):
1. Waliyyul Amri = pemimpin, penguasa (semisal presiden, perdana menteri, raja/sultan/kaisar, khalifah).