>

Dalam keseharian hidup dengan kesibukan dunia yang ada, kita banyak terlena dan lalai dari berdzikir kepada Alloh Ta’ala serta mengingat negeri akhirat. Padahal mengingat Alloh dan negeri akhirat merupakan suatu keharusan demi hidupnya hati yang ada di dalam dada.
Majelis dzikir merupakan majelis yang menghubungkan hati kita kepada Alloh dan kampung akhirat. Majelis yang dapat melunakkan hati serta memudahkan menetesnya butiran-butiran bening dari kedua mata. Karenanya majelis seperti ini harus sering kita hadiri untuk membina dan terus memupuk keimanan dalam hati. Namun yang perlu jadi catatan, majelis dzikir yang dipuji di dalam syari’at, modelnya bukan seperti majelis dzikir berjamaah yang sekarang lagi naik daun dan dipublikasikan di berbagai media. Sungguh, jauh panggang dari api….!

Tidaklah kita ragukan, majelis Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersama para sahabat beliau dahulunya adalah majelis dzikir yang sarat dengan lantunan ayat-ayat Alloh, hadits-hadits yang mulia, nasihat dan peringatan yang bermanfaat bagi umat. Majelis seperti majelis merekalah yang kita tuju.

Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata, Kami mengeluh kepada Rosululloh,
“Wahai Rosululloh! Kenapa diri kami ini, bila berada di sisimu hati kami lunak, gampang tersentuh, dan kami merasa tidak butuh kepada dunia. Kami seakan termasuk penduduk akhirat. Namun bila kami meninggalkanmu lalu berkumpul dengan istri-istri kami dan bermain-main dengan anak-anak kami, kami mengingkari diri kami, tidak seperti ketika bersamamu.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Seandainya kalian saat keluar dari sisiku (berkumpul dengan keluarga kalian) keadaannya sama dengan keadaan kalian saat bersamaku, niscaya para malaikat akan menziarahi kalian di rumah-rumah kalian. Seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Alloh akan mendatangkan makhluk baru, yang mereka kemudian berbuat dosa, lalu Alloh mengampuni mereka.”
Abu Hurairah kemudian bertanya, “Wahai Rosululloh, dari apakah makhluk diciptakan?” Beliau menjawab, “Dari air.” Abu Hurairah bertanya lagi, “Bangunan surga itu dari apa?”
“Batu bata dari emas dan batu bata dari perak. Lumpurnya adalah misik adzfar. Kerikilnya adalah mutiara dan yaqut. Tanahnya adalah za’faran. Siapa yang masuk ke dalamnya, ia akan merasakan kenikmatan dan tidak akan pernah susah. Dia akan hidup kekal, tidak pernah mati. Pakaiannya tidak akan usang dan kemudaannya tidak akan berakhir.”
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dengan sanad Hasan (Ash Shahihain, no. 969)).
Demikianlah gambaran majelis Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersama para sahabat beliau. Majelis yang didominasi dengan dorongan untuk mengingat Alloh, majelis targhib dan tarhib. Majelis tersebut diisi dengan bacaan Al Qur’an, dengan hadits-hadits nabawi yang Alloh ajarkan kepada beliau, dan dengan nasihat yang baik. Tak luput pula beliau memberikan pengajaran perkara yang bermanfaat dalam agama ini. Karena Alloh memerintahkan beliau dalam kitab-Nya untuk memberikan peringatan, menasihati, menyampaikan kisah serta mengajak manusia kepada jalan Robb-nya dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Sebagaimana beliau diperintah untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Alloh menamakan beliau sebagai mubasysyir pemberi kabar gembira, nadzir pemberi peringatan dan da’i ilalloh penyeru ke jalan Alloh.
Targhib dan Tarhib yang disampaikan Rosul yang mulia menjadikan para sahabat beliau sebagaimana penuturan Abu Hurairah:
  • hati mereka lunak. 
  • gampang tersentuh.
  • zuhud terhadap dunia dan rindu kepada akhirat.

Kelunakan hati seorang hamba merupakan pengaruh dzikir, karena memang berdzikir kepada Alloh membuat hati menjadi tunduk, menjadi baik dan lunak serta menghilangkan kelelahan jiwa.

Alloh berfirman:

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Alloh lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Robb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal: 2).
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Alloh. Yaitu orang-orang yang tunduk patuh kepada Alloh. Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka….” (QS. Al Hajj: 34-35).
Sahabat yang mulia, Al ‘Irbadh ibnu Sariyyah rodhiyallohu ‘anhu berkata dalam menggambarkan satu majelis Rosululloh yang pernah dihadirinya,
“Rosululloh pernah memberi kami nasihat yang sangat menyentuh hati kami, nasihat yang membuat hati-hati bergetar dan air mata bercururan.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi).
Dalam majelis dzikir akan turun rahmat, diliputi majelis itu dengan sakinah/ketenangan dan ketenteraman, para malaikat mengelilinginya dan Alloh memuji-muji orang yang hadir di majelis tersebut di hadapan para malaikat-Nya.
Orang yang hadir di majelis dzikir adalah suatu kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Bahkan terkadang pendosa yang duduk bersama mereka dirahmati karenanya. terkadang di antara yang hadir ada yang menangis karena takut kepada Alloh Ta’ala, maka orang yang hadir semuanya mendapatkan anugerah.
Rosululloh menggambarkan suatu majelis dzikir sebagai taman-taman surga dalam sabdanya,
“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahilah.” Para sahabat bertanya, “Apa taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Majelis Dzikir.”
(HR. Ahmad dan At Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu. Sanad hadits ini jayyid, sekalipun ada rawi’ yang dha’if, tetapi ada penguatnya yang menjadikan hadits ini menjadi sedikit terangkat).
Diringkaskan dari Majalah Asy-Syari’ah No. 52/V/1430H/2009 dengan judul artikel “Majelis Dzikir” (halaman 91-93). Bagi yang ingin copy tulisan lengkapnya/aslinya, silakan hubungi redaksi  Blog Rumah Belajar Ibnu Waqqash di 083892007328 via SMS dan akan dikirimkan via e-mail dengan gratis.