>

n1221117448_285559_4736
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100).
Sering kita mendengar kata-kata “salaf”, “salafy”, atau “salafiyah”. Banyak yang menafsirkan “salaf” adalah aliran seperti halnya Syi’ah atau Ahmadiyah. Ada juga yang mengartikannya sebagai Islam Tradisional bahkan tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan ajaran Islam Radikal yang bermuara pada aksi-aksi teror sebagaimana sering diberitakan oleh media-media barat. Benarkah demikian? Mari kita telusuri bersama makna daripada “salaf” ini.




Makna Salaf
Salaf adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in (generasi sesudahnya) yang berada di atas fitrah (agama) yang selamat dan bersih dengan wahyu Alloh. Mereka menyandarkan aqidah kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai oleh pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh-pengaruh filsafat-filsafat  tersebut merusak kaum muslimin.
Siapa sajakah yang termasuk dalam salaf maupun salafy ini? Berikut adalah batasan-batasan seseorang bisa dikatakan sebagai seorang salaf atau salafy:
1. Batasan Zaman
Tiga generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, dimana beliau menggambarkan keutamaan mereka dalam sebuah hadits:
“Sebaik-baik kalian adalah generasiku (sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari, kitab Syahadat. Diriwayatkan dari Sahabat Imran bin Husain).
Demikian itu, dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum Muslimin sebagaimana terjadi sesudah mereka tiada. Berarti yang dimaksud salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat nabi kemudian tabi’in, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

2. Batasan Manhaj
Dari tinjauan manhaj, salaf adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Al Qur’an dan As Sunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya berdasarkan Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’: 59).
Inilah keutamaan yang dimiliki oleh mereka. Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini. Kelompok-kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih, dan men-ta’wil-kan ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semua bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Alloh. Sebab tidak ada yang menetapkannya secara dhahiriyah dan menafikan tasybih (penyerupaan) kecuali ulama salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Tafsir Surat At Taubah: 100
Surat At Taubah ayat 100 yang dikemukakan di awal pembahasan, jika kita perhatikan ayat itu menjelaskan tentang generasi salaf dan salafy. Yakni orang-orang Muhajirin dan Anshar serta siapa saja yang mengikuti ajaran mereka dengan baik. Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dalam bukunya “Adwa’un ‘ala Kutubis-Salafi fil-Aqidati” (terjemahan: Berkenalan dengan Manhaj Salaf) menjelaskan (halaman 19 pada edisi terjemahan cetakan pertama/2003):
“Orang-orang yang telah dijelaskan (dalam ayat tersebut) dengan sifat-sifatnya adalah salafus sholih. Adapun orang-orang (generasi) sesudahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka di-nisbah-kan kepada mereka dengan huruf (“ ي “) yang kemudian menjadi nisbah kepada “salafi”. Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, mereka adalah Khalaf dan mereka bangga dengan keadaan demikian itu.
Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan salaf, khususnya dalam menetapkan sifat-sifat Alloh. Bukti konkrit yang demikian itu ada dalam makalah-makalah mereka yang menyatakan jalannya salaf adalah selamat dan jalannya khalaf adalah a’alam (lebih berilmu) dan akham (lebih lurus). Makalah ini dan kebatilannya masyhur (sangat terkenal). Dan juga dibawakan makalah ini sebagai bukti pengakuan orang-orang Khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan salaf, dan bahwasannya jalannya khalaf lebih banyak ilmu dan lebih lurus.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membatalkan ungkapan ini dan menetapkan bahwa jalan salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu jalan mereka adalah aslam (selamat), ‘alam (ilmiah) dan ahkam (lurus).”
Kesimpulan
Jadi dari kajian ini kita bisa ambil satu kesimpulan bahwa yang dinamakan salaf atau salafy itu bukanlah aliran atau semacamnya. Salaf adalah generasi awal umat Islam yang terbimbing dan lurus, adapun salafy adalah orang-orang yang konsisten mengikuti sunnah-sunnah mereka dengan baik. Wallohu A’lam.

Referensi:
Al Qur’an dan Terjemahan (HaditsWeb 3.0).
Al Madkhali, Muhammad bin Rabi’ bin Hadi. 2003. Berkenalan dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula). Maktabah Salafy Press – Tegal.