>

oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali hafizahullohu.
Di antara para juru dakwah, ada yang selalu mengelak untuk menyebutkan istilah salafiyah dan mereka hanya terfokus pada istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka hanya memperkenalkan sifat dakwahnya dengan sebutan itu. Mereka menyatakan berkali-kali dalam muhadharah-muhadharah (ceramah-ceramah) dan majelis ilmu mereka.
Demikianlah sekalipun mereka tidak memaksudkan istilah (salafiyah), maka ini termasuk dari bukti keagungan dan kemuliaan Alloh, agar dakwah yang haq berbeda dengan segala yang mengotorinya dan agar tersaring dari segala kerancuan dan noda-noda.
Penyelasannya, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkembang (muncul) ketika fitnah-fitnah itu berbenih bid’ah-bid’ah. Untuk itu jama’ah kaum Muslimin terbedakan dengan berpegang kepada sunnah. Sehingga mereka dikatakan Ahlus Sunnah, sedang lawannya disebut Ahlul Bid’ah. Yang berpegang dengan sunnah disebut juga dengan Al Jama’ah. Istilah ini merupakan asal nama mereka, yang terpisah dari hawa nafsu dan bid’ah. Adapun pada masa kini setiap kaum dan jama’ah yang berbeda-beda memakai istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Anda menyaksikan banyak jama’ah yang menamakan diri, dari mereka sendiri, dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sampai sejumlah tarekat Sufi Maturidiyah, Barlawiyah dan yang semisalnya mengaku, “Kami Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.” Bersamaan dengan itu mereka takut memakai dan mensifati dakwah mereka dengan salafiyah. Mereka berusaha menjauh dari manhaj salaf sekalipun hanya sebatas nisbah apalagi mewujudkan manhaj salaf.
Oleh karena itu syiar Ahlus Sunnah adalah mengikuti Salafus Sholih dan meninggalkan segala macam kebid’ahan dan perkara-perkara baru dalam agama [1]. Barangsiapa mengingkari, bahkan melecehkan bergabung dengan salaf, maka harus dibantah dan dibatalkan ucapannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu berkata [2]:
“Tidak ada kehinaan bagi siapa saja yang memperjuangkan madzhab Salaf, menisbahkan diri kepadanya bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan (ulama), karena sesungguhnya madzhab Salaf adalah pasti benar.”
Saya bertanya-tanya, mengapa sebagian saudara kita terus memakai istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka enggan untuk memakai istilah Salafiyah. Kita yakin mereka berada di atas aqidah salaf. Mereka menimba kebersihan aqidah tersebut, bahkan tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga dan berbagai tingkat pendidikan tersebut.
Aku katakan kenapa mereka tidak mencukupkan saja dengan istilah “muslimin” kalau seandainya mereka takut dan khawatir akan mengantarkan kepada perpecahan –menurut pendapat mereka?
Maka jika mereka membolehkan bernama dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah maka tidak ada larangan jika memakai nama Salafiyah sebagai nisbah kepada Salafus Sholih, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.
Akan tetapi saya katakan, “Tidak tersembunyi lagi, kenapa mereka terus menggunakan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, karena mereka ingin menampakkan toleransi dan kelemah-lembutannya kepada para penyelisih manhaj Salaf serta jalannya. Hal ini bertujuan agar luas ruang lingkupnya bukan kualitas dan mengikuti jama’ah sebelumnya hanya sebatas uji coba.”
Saya telah mendengar sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada dakwah dan kebaikan, bahwa mereka ingin menghilangkan lambang-lambang dan penamaan-penamaan ini secara menyelurug dan mereka memasukkan juga di dalamnya nama Salafiyah dengan dalil bahwa nama-nama dan lambang-lambang ini akan menjurus kepada perpecahan dan kelompok-kelompok.
Keinginan dan tujuan ini mencakup haq dan batil. Kita sepakat atas penghapusan setiap syiar-syiar yang diada-adakan dan bid’ah. Bahkan mayoritasnya tidak diketahui kecuali baru-baru saja sekitar lima puluh tahunan ke belakang dan sebagiannya bahkan tidak sampai umurnya tercatat oleh zaman.
Akan tetapi syiar Salafiyah dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bukan kelompok Hizbiyah (satu istilah untuk kelompok yang menyelisihi sunnah) dan tidak pula bergabung dengan kelompok manapun. Salafiyah dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan warisan pendahulu generasi pertama Islam ini.
(dari buku: “Adwa’un ‘ala Kutubus-Salafi fil-Aqidati”. Terjemahan: “Berkenalah dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula)”, penerbit: “Maktabah Salafy Press – Tegal).
____________________
[1]. Kitab al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah (I/hal. 364), karya al-Ashbahani.
[2]. Majmu Fatawa (IV/hal. 149) dan Kitab Ruqyatul Waq’iyah fi Manahijd-Da’wihaq, karya Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid (hal. 21-23).