>

oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali hafizahullohu.
Syaikh al-‘Allamah Bakr Abu Zaid berkata dalam kitab beliau “Hukmul Intima’ (halaman 30) dan berikutnya:
Muslimin di kalangan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum sebelum munculnya benih-benih penceraiberaian dan perpecahan tidak memiliki nama untuk membedakan mereka…..Akan tetapi, ketika munculnya kelompok-kelompok sesat yang dihimpun dalam lafazh ahlul ahwa (hawa nafsu) -dinamakan demikian karena mereka dikuasai hawa nafsu- dan dihimpun dalam lafazh ahlul bida’ karena mereka mengikuti apa yang bukan dari agama, juga tercakup dalam lafazh ahlul syubhat karena mereka menyamarkan perkara al-haq dengan kebatilan. Ketika munculnya kelompok-kelompok tersebut yang menisbahkan dirinya kepada Islam tetapi sebenarnya terpisah dari tulang punggung kaum muslimin, maka muncullah penamaan mereka (Ahlus Sunnah) yang syar’i dengan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah untuk membedakan mereka sebagai jama’ah kaum Muslimin yang bertujuan untuk memukul kelompok-kelompok sesat dan pengekor-pengekor hawa nafsu tersebut. 
Penamaan demikian terambil dari syari’at dengan nama Al Jama’ah, Jamatul Muslimin, al-Firqotun Najiyah, ath Tha’ifah al-Mansurah, dinamakan seperti itu karena konsisten berpegang dengan sunnah dihadapan ahlul bida’. Oleh sebab itulah maka terjadi ikatan dengan generasi pertama umat ini sehingga dikatakan as salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Nama-nama yang mulia ini telah membedakan dengan nama kelompok-kelompok sempalan apapun juga. Ini dilihat dari beberapa sisi:


Pertama

Nisbah ini tidak terpisah sesaat pun dengan umat Islam. Mulai dari pembentukannya di atas manhaj nabawi. Nama ini mencakup seluruh kaum muslimin yang berada di atas jalan generasi yang pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam pengambilan ilmu, serta memahami dan berdakwah kepadanya. 
Tidak terbatas dengan peredaran sejarah tertentu, akan tetapi wajib dipahami bahwa perjalanannya terus berlangsung sepanjang kehidupan dan selama Firqatun najiyah yang berada di barisan ahlul hadits dan sunnah. Merekalah pemilik manhaj ini dan terus ada sampai datangnya Hari Kiamat. Terambil dari sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam
“Terus-menerus sekelompok dari umatku tertolong di atas al-haq, tidak akan memdharatkannya siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka.”
Kedua
Semua nama-nama ini mencakup Islam seluruhnya, karena Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak memakai nama khusus yang menyelisihi, menambah atau mengurangi dari apa yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. 
Ketiga
Semua nama-nama ini diantaranya ada yang terambil dari sunnah yang shahih dan diantaranya tidak mau dipakai keciali dalam rangka menghadapi manhaj-manhaj ahlul hawa nafsu dan kelompok-kelompok sesat, dengan tujuan untuk membantah mereka, membedakan diri dengan mereka, menjauhkan diri dari bergaul bersama mereka. Ini disebabkan munculnya bid’ah mereka yang berbeda dengan istilah As Sunnah seperti ketika mereka menjadikan hasil pemikirannya sebagai hakum, ketika mereka berbeda dengan istilah al-Hadits serta al-Atsar dan ketika bertebaran bermacam kebid’ahan serta hawa nafsu yang bertebaran dalam diri mereka telah berbeda dengan istilah salaf. 
Keempat
Meletakkan al-Wala’ (loyalitas) dan al Bara’ n(berlepas diri) al Mu’awanat (membela) dan al-Mua’adat (memusuhi) di atas jalan Islam buikan selainnya, tidak di atas satu lambang tertentu atau lambang yang telah ada akan tetapi di atas Al Qur’an dan As Sunnah Semata. 
Kelima
Nama-nama ini tidak menggiring mereka ke dalam kubangan fanatisme kepada individu tertentu, selain Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yang ucapannya bukan berasal dari hawa nafsunya, akan tetapi dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dialah yang wajib kita benarkan terhadap segala apa yang diberitakannya dan mentaati apa saja yang diperintahkannya. Hal ini tidak dimiliki oleh selain beliau….. bahkan setiap orang bisa saja diambil dan ditinggalkan ucapannya kecuali Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka jelaslah semuanya bahwa orang yang pantas menjadi al-Firqotun Najiyah (kelompok yang selamat) adalah “Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah”. Mereka tidak memiliki ikutan (teladan) yang mereka fanatik kecuali Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam
(dari buku: “Adwa’un ‘ala Kutubus-Salafi fil-Aqidati”. Terjemahan: “Berkenalah dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula)”, penerbit: “Maktabah Salafy Press – Tegal).