>

Pernahkah kita mendengar hadits ini?
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang memperoleh (pahala sesuai dengan) apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraih atau seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab).
Dalam buku “Mabadiul Mufidah fy at-Tauhid wa Al Fiqih wa Al-Manhaj” Asy Syaikh hafizahullohu juga menguraikan beberapa permasalahan tentang Fiqih. Pembahasan pertama tentang Fiqih pada buku tersebut adalah “Niat dalam Ibadah”. Mari kita ikuti bersama pembahasannya.
1. Setiap yang dinamakan ibadah harus disertai dengan niat, sedangkan niat tidak lain tempatnya di hati.
Dalilnya hadits ‘Umar bin Al Khaththab rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

2. Melafadzkan niat termasuk perbuatan bid’ah.
Dalilnya hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian daripadanya maka amalan itu tertolak.” (Muttafaq ‘Alaihi).
3. Apakah Bid’ah itu?
Bid’ah adalah suatu perbuatan yang diada-adakan sepeninggal Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tujuan ibadah, dan tidak ada padanya dalil dari Al Kitab dan tidak pula dari As Sunnah.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari pembahasan ini adalah:
  1. Niat sebagai salah satu syarat diterimanya suatu amalan.
  2. Suatu amalan itu tergantung dari niatnya. Bila niatnya baik maka amalnya baik. Sebaliknya bila niatnya buruk maka amalnya pun buruk.
  3. Niat itu tempatnya di dalam hati.
  4. Melafadzkan niat adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan.
  5. Setiap perkara baru dalam agama ini yang tidak pernah ada contoh dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam maupun tidak ada satu pun dalil dari Al Qur’an dan Sunnah sebagai sandarannya, maka perkara tersebut adalah bid’ah dan tertolak.
Allohu A’lam bi Showab.  
Referensi tambahan:
  • Imam An Nawawi dan Ibnu Rajab Al Hambali. 2009. Arbaun An-Nawawi wa Ziyadatu Ibni Rajab alaiha. Maktabah Al Ghuroba – Solo.