>

Makkah-1910
Pada kesempatan kali ini, Insya Alloh kita akan mempelajari cikal bakal atau asal-muasal bangs Arab. Darimana asal mereka? Dan bagaimana mereka menjadi orang-orang musyrikin Jahiliyyah?
Asal Hajar, Ibu Nabi Isma’il ‘alaihis salam.
Cikal bakal bangsa arab yang paling atas adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau berasal dari negeri Iraq, dari sebuah daerah yang disebut Aur. Aur ini terletak di pinggir barat Sungai Eufrat dan berdekatan dengan negeri Kuffah (sekarang). Telah diketahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hijrah dari negeri Iraq ke Harran. Kemudian dari sana hijrah ke Palestina sebagai pijakan dakwah beliau. Beliau banyak menyusuri daerah-daerah negeri ini dan negeri lainnya.
Beliau pernah satu kali datang ke Mesir. Penguasa Mesir yang bergelar Fir’aun waktu itu, pernah berusaha melakukan keburukan terhadap istri beliau, Sarah. Namun Alloh justru membalikkan tipu dayanya kepada dirinya sendiri. Hingga akhirnya Fir’aun tahu bahwa Sarah mempunyai hubungan yang kuat dengan Alloh. Kemudian Fir’aun menghadiahkan putrinya sendiri, Hajar, menjadi pembantu Sarah. Dan akhirnya Sarah mengawinkan Hajar dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kemudian kembali ke Palestina.
Nabi Isma’il ‘alaihis salam dan Hajar Hijrah ke Baitulloh (Ka’bah).
Alloh menganugerahkan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dari Hajar kepada Ibrahim ‘alaihis salam. Kemudian beliau membawa keduanya ke Baitulloh (Ka’bah). waktu itu, masih berupa gundukan tanaman dan kadang didatangi air bah. Air bah itu akan mengalir di sebelah kanan dan kirinya. Lalu beliau meletakkan putranya di dekat sebuah pohon yang besar, tepatnya kalau sekarang di dekat tempat mata air Zamzam di bagian atas Masjidil Haram. Saat itu di Makkah belum ada seorang manusia pun dan tidak ada air. Beliau meletakkan kantong kulit yang berisi air di dekat Hajar dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina.
Beberapa hari kemudian, bekal dan air itu habis. Kemudian mata air Zamzam memancar berkat karunia Alloh. Sehingga air Zamzam itu menjadi bahan makanan bagi mereka berdua, yang tak pernah habis hingga sekarang…
Orang-orang Berdatangan Ke Makkah.
Suatu kabilah dari Yaman, yaitu Bangsa Jurhum yang kedua datang ke sana. Atas perkenan Ibu Nabi Isma’il ‘alaihis salam, mereka menetap di sana. Mereka berdiam di Makkah sebelum Nabi Isma’il ‘alaihis salam remaja. Dulu, mereka sudah biasa melewati lembah Makkah sebelum itu.
Nabi Ibrahim menjenguk Nabi Isma’il ‘alaihis salam.
Dari waktu ke waktu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam datang ke Makkah untuk menjenguk keluarga yang ditinggalkannya. Tidak diketahui berapa kali kunjungan yang beliau lakukan. Hanya saja sumber-sumber sejarah mencatat ada empat kunjungan beliau:
1. Tatkala Alloh memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam mimpinya, bahwa beliau menyembelih Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Dan mimpi seorang nabi adalah wahyu. Kemudian beliau menunaikan wahyu ini. Alloh menyebutkan di dalam Al Qur’an tentang hal ini:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shaffat: 103-107).
Disebutkan bahwa umur Nabi Isma’il ‘alaihis salam tiga belas tahun lebih tua dari Nabi Ishaq ‘alaihis salam. Kisah penyembelihan ini terjadi sebelum kelahiran Nabi Ishaq disampaikan setelah terjadinya kisah penyembelihan ini. Kisah ini –minimalnya- menunjukkan satu kunjungan Nabi Ibrahim ‘alahis salam, sebelum Nabi Isma’il menginjak remaja.
2. Setelah remaja, Nabi Isma’il ‘alahis salam belajar bahasa Arab dari Kabilah Jurhum. Nabi Isma’il menyukainya. Kemudian mereka mengawinkannya dengan seorang wanita dari mereka. Kemudian ibu Nabi Isma’il, Hajar, meninggal dunia.
Suatu saat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hendak menjenguk Nabi Isma’il. Maka beliau datang setelah pernikahan itu. Namun beliau tidak mendapatkan Nabi Isma’il. Maka beliau bertanya kepada istrinya tentang keadaan mereka berdua. Istri Nabi Isma’il mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat. Maka Nabi Ibrahim menitip pesan agar Nabi Isma’il merubah ambang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Nabi Isma’il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Nabi Isma’il menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan wanita lain, yaitu putri Mudadh bin ‘Amr, pemimpin dan pemuka Kabilah Jurhum.
3. Setelah pernikahan yang kedua ini, Nabi Ibrahim datang lagi, namun tidak bertemu dengan Nabi Isma’il. Beliau bertanya kepada istrinya keadaan mereka berdua. Jawaban istrinya adalah pujian kepada Alloh. Lalu Nabi Ibrahim kembali lagi ke Palestina setelah menitip pesan lewat istri Nabi Isma’il, agar Nabi Isma’il memperkokoh pintu rumahnya.
4. Pada kunjungan ini, Nabi Ibrahim ‘alahis salam bisa bertemu dengan Nabi Ismail, yang sedang meraut anak panah di bawah sebuah pohon besar di dekat Zamzam. Tatkala keduanya bertemu, keduanya saling melepas kerinduan setelah perpisahan yang lama.
Pertemuan keduanya terjadi setelah sekian lama. Pada perjumpaan ini, mereka berdua membangun Ka’bah, meninggikan sendi-sendinya, dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengajak manusia untuk menunaikan haji sebagaimana yang diperintahkan Alloh kepada beliau.
Keturunan Nabi Isma’il Tersebar di Penjuru Jazirah Arab.
Dari perkawinannya dengan Putri Mudhadh, Nabi Isma’il ‘alaihis salam dikaruniai dua belas anak oleh Alloh, yang semuanya laki-laki, yaitu: Nabat atau Banaluth, Qidar, Adba’il, Mabyam, Masyma’, Duma, Misya, Hadad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman. Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Makkah untuk sekian lama. Mata pencaharian mereka adalah berdagang dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar bahkan sampai ke luar Jazirah Arab.
Sumber: Kisah-Kisah Berhala Musyrikin Jahiliyyah. Abu Muhammad Miftah. Penerbit Gema Ilmu – Yogyakarta.