>

Dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah memberi nasihat yang menyebabkan hati tergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata, “Ya Rosululloh, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!” Beliau bersabda:
“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Alloh, mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kamu adalah seorang budak. Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kamu masih hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kamu untuk berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang terbimbing dan lurus. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu berbagai perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, sanad: hasan). 
Kelompok sempalan tak pernah lepas dari golongan yang menyimpang maupun aliran-aliran sesat. Gerakan neo-Khawarij atau Terorisme adalah bagian dari sempalan tersebut. Di Indonesia contohnya, terdapat 3 (tiga) kelompok besar yakni DI/TII, Hizbut Tahrir (HT) dan Ikhwanul Muslimin (IM). Dalam bukunya “Mereka Adalah Teroris”, Al Ustadz Luqman Ba’abduh hafizahullohu menguraikan ketiga kelompok tersebut sebagai berikut:
1. DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia)
DI-TII Ini adalah produk asli Indonesia. Merupakan gerakan pemberontakan (khawarij) terhadap pemerintah Indonesia. Gerakan ini didirikan oleh Kartosuwiryo. Kenapa mereka memberontak kepada pemerintah Indonesia?
DI/TII menilai bahwa Indonesia adalah negara kafir karena telah berhukum dengan selain hukum Alloh Ta’ala. Oleh karena itu kemudian mereka berambisi untuk mendirikan negara Islam (menurut sangkaan mereka) di Indonesia. Gerakan ini melakukan aksi bersenjata melawan pemerintah RI yang sah. Tercatat sekian kali gerakan separatis ini beraksi di berbagai daerah di negeri ini. Sehingga korban dari kedua belah pihak yang notabene  kebanyakan adalah kaum Muslimin, dan tertumpahnya darah-darah yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk ditumpahkan. 
2. HT (Hizbut Tahrir).
HT Produk Impor dari Jordania, didirikan oleh Dr. Taqiyuddin An Nabhani. dia adalah seorang yang beraqidah Asy’ariyyah-Matrudiyyah. HT menegaskan bahwa mereka adalah Partai Politik yang ternyata pada praktiknya menggunakan cara-cara khawarij dalam tindakan-tindakannya. Mereka memprovokasi umat dengan alasan amar ma’ruf nahi munkar dan upaya kritik terhadap penguasa, maka dengan terang-terangan mencerca pemerintah melalui aksi-aksi demo, orasi-orasi di atas mimbar, serta media yang lainnya.
Pada beberapa kesempatan Hizbut Tahrir sok menampilkan pertentangan terhadap tindakan-tindakan anarkis, atau upaya pertentangan terhadap penguasa dengan mengangkat senjata. Bukan disebabkan karena HT menganggap tidak bolehnya upaya mengangkat senjata dalam menentang pemerintah secara mutlak, namun karena mereka memiliki cara pandang yang berbeda dengan kelompok khawarij yang lainnya dalam masalah ini. Hal ini sebagaimana mereka sebutkan dalam buku Strategi dakwah HT halaman 38-39, 72 dimana disebutkan, “….dalam tahap ini ada dua cara yang harus ditempuh:
  1. Apabila negara itu termasuk katagori Darul Islam, dimana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.
  2. Apabila negara itu termasuk katagori Darul Kufur, dimana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan).
Dalam masalah aqidah dan hukum mereka menggunakan cara Mu’tazilah yaitu mengedepankan akal dan menolak hadits ahad, walaupun dengan berbagai macam alasan mereka berusaha mengesankan bahwa yang mereka lakukan itu bukan menolak hadits ahad, bahkan mereka menolak untuk dinyatakan bahwa mereka mengingkari hadits ahad sebagaimana manhajnya Mu’tazilah. 
3. IM (Ikhwanul Muslimin).
IM Aliran sesat produk Mesir, didirikan oleh Hasan Al Banna pada Dzulqa’dah 1347H di kota Isma’illiyah, yang sebelumnya gerakan ini berupa “Lembaga Pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah.” Bermula dari ide sesat yang dia kemukakan, yaitu “Tolong-menolong dalam hal yang kita sepakati, dan saling menghormati (mutual respect) dalam hal yang kita berbeda pendapat padanya”, maka dia mengatakan, “Permusuhan kita dengan Yahudi bukan permusuhan agama.” Kemudian dengan prinsip sesat tersebut, gerakan IM yang dia dirikan itu menjadi ajang subur hidupnya berbagai aliran sesat. Berbagai aliran sesat itu dilindungi dengan prinsip “….saling menghormati (mutual respect) dalam hal yang kita berbeda pendapat padanya.”
Hasan Al Banna sendiri adalah penganut aliran sesat Tarekat Hushafiyyah, salah satu tarekat tashawwuf. Demikian pula Musthafa As Siba’i dan ‘Umar Al Tilmisani, dua tokoh besar gerakan ini yang beraqidah sufi. Demikian pula hidup di tengah-tengah gerakan sesat ini Sayyid Quthb dan Muhammad Quthb yang mengusung pemikiran-pemikiran takfir (pengkafiran terhadap kaum Muslimin) yang kemudian sangat populer dan terkenal di kalangan dunia hizbiyyun. Dan masing-masing mengusung pemikiran-pemikiran sesat yang mereka adopsi dari aliran-aliran sesat, baik Khawarij, Mu’tazilah, Syi’ah, Shufiyyah, dll. Sebut saja di sana: Hasan At Turabi, Sa’id Hawwa, Yusuf Al Qaradhawi, Muhammad Al Ghazali,…dll., yang masing-masing memiliki pemikiran dan aqidah yang sesat.
Dalam praktik politiknya, IM juga melakukan cara-cara Khawarij. Bahkan, IM di Mesir dengan dipimpin langsung oleh Hasan Al Banna melakukan gerakan kudeta –yang sarat dengan aksi-aksi teror dan kekerasan- terhadap pemerintah yang sah, yang telah memvonis mereka kafir. Kudeta tersebut berujung dengan ditumpasnya tokoh-tokoh mereka, termasuk juga tewasnya Hasan Al Banna sendiri, demikian juga tokoh-tokoh yang lainnya harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan. Nasib tragis seperti itu harus mereka terima juga di berbagai negeri.
Beberapa tokoh Al Ikhwanul Muslimin menyerukan dan mengkampanyekan upaya penyatuan agama-agama samawi, dan menganggap para pemeluk agama-agama samawi tersebut sebagai saudara yang tidak pantas untuk dimusuhi dan diperangi.
Al Ustadz hafizahullohu menguraikan ketiga kelompok ini dalam rangka membantah buku berjudul “Aku Melawan Teroris” karya Imam Samudra, yang mana dalam buku itu, Imam Samudra menulis (halaman 58),
“Di Indonesia ada DI/TII, HT (Hizbut Tahrir), IM (Ikhwanul Muslimin), Persis, NU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Lalu siapakah yang benar dan siapakah yang salah? Siapa yang lurus dan siapa yang sesat? Masalah di atas tidak akan selesai dibahas. “
Tetapi semuanya sudah jelas, terang-benderang dan gamblang.
Jika kita amati dari ketiga kelompok tersebut, semuanya memang mengusung satu ideologi yakni Khawarij. Mereka sama-sama menjatuhkan vonis kafir kepada penguasa kaum Muslimin di negeri Muslim. Bahkan DI/TII dan Ikhwanul Muslimin telah sampai pada tahap melakukan gerakan makar terhadap penguasa dibarengi dengan aksi-aksi teror dan pengerusakan. Hanya tempatnya saja yang berbeda. DI/TII di Indonesia, sementara IM di Mesir. (Insya Alloh akan ada pembahasan tersendiri tentang aksi-aksi teror ini).
Wallohu A’lam bi Showab.
Referensi:
  • Imam An Nawawi dan Ibnu Rajab Al Hambali. 2009. Arbaun An Nawawiyah wa Ziyadatu Ibni Rajab alaiha. Maktabah Al Ghuroba – Solo.
  • Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh. 2005. Mereka Adalah Teroris: Bantahan terhadap Buku Aku Melawan Teroris karya Imam Samudra. Pustaka Qaulan Sadida – Malang.