>

Kajian ini diambil dari buku “Bekal Bagi Penuntut Ilmu” karya 3 ulama, yakni Asy Syaikh Abdullah bin Shalfiq Adh-Dhafiri, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rohimahullohu. Pada bagian pertama kita akan membahas “10 Bekal Menuntut Ilmu” yang ditulis oleh Asy Syaikh Abdullah bin Shalfiq Adh Dhafiri hafizahullohu. Tulisan beliau ini diberi pengantar oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi hafizahullohu.
Insya Alloh kita akan terlebih dahulu membahas point ke-4 dari 10 Bekal Menuntut ilmu yaitu Hati yang Jernih.
Hati adalah tampungan ilmu. Apabila tampungan tersebut baik, niscaya akan menyimpan dan menjaga apa yang ada di dalamnya, namun apabila tampungan tersebut rusak niscaya akan merusak dan menelantarkan apa yang ada di dalamnya.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjadikan hati sebagai pangkal pokok segala sesuatu. Beliau bersabda:
“Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam badan terdapat sekerat daging. Apabila sekerat daging tersebut baik maka akan baik pula seluruh anggota badan, namun apabila rusak maka akan rusak pula seluruh anggota badan. Ketahuilah! Sekerat daging tersebut adalah hati.”
(HR. Bukhari (no. 2051), Muslim (no. 1599, 107, 108), Ahmad (4/267), Abu Dawud (no. 3229) dan Nasa’i (7/241)).


Kejernihan hati akan terwujud dengan cara mengenal Alloh Azza Wa Jalla, asma’ dan shifat serta perbuatan-Nya, memikirkan keagungan makhluk dan ayat-ayat Alloh serta mentadabburi Al Qur’an Al ‘Adhim. Bisa juga dengan memperbanyak sujud dan sholat malam.

Dan menjauhi hal-hal yang merusak hati dan penyakit-penyakitnya. Karena apabila penyakit-penyakit tersebut dijumpai di dalam hati, niscaya hati tidak akan mampu membawa ilmu. Kalaupun seandainya sanggup pastilah tidak akan mampu memahami ilmu yang ia bawa. Sebagaimana firman Alloh Azza Wa Jalla tentang orang-orang munafik yang telah berpenyakit hati mereka:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk itu isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 179).
Penyakit hati ada dua macam: penyakit syahwat dan syubhat.
Adapun mengenai penyakit syahwat, seperti cinta kehidupan dunia dan perhiasannya serta menyibukkan diri dengannya, suka memandang wajah-wajah cantik dan ganteng, senang mendengarkan suara-suara haram seperti musik dan nyanyian, serta suka memandang hal-hal yang haram dipandang.
Adapun penyakit syubhat seperti keyakinan yang rusak, amalan bid’ah, serta menyebarkan pemikiran-pemikiran bid’ah dan menyimpang dari jalannya Salafus Sholih.
Diantara penyakit hati juga menghalangi seseorang dari ilmu antara lain hasad, dengki, dan takabbur (sombong). Di antara hal-hal yang merusak hati antaralain banyak tidur, banyak bicara dan banyak makan.
Maka penyakit dan hal-hal tersebut merupakan sebab kehidupan dan kejernihan hati.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari pembahasan ini adalah:
  1. Hati adalah tampungan ilmu. Apabila baik maka ia akan baik, sebaliknya jika ia buruk maka akan buruk pula.
  2. Kejernihan hati akan terwujud apabila kita mau mengenal Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Penyakit hati adalah kendala akan terbawanya suatu ilmu untuk meresap ke dalam hati kita.
  4. Hendaknya kita senantiasa waspada terhadap dua penyakit hati yakni syahwat dan syubhat. Disamping penyakit hasad, dengki dan sombong serta perusak-perusak hati yakni banyak tidur, banyak bicara dan banyak makan.
Wallohu A’lam bi Showab.