>

oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Rabi bin Hadi Al Madkhali hafizahullohu
Adalah sesuatu yang benar bahwa ulama salafiyin, dulu maupun sekarang, mereka sangat jauh dari fanatisme terhadap para imam dan masyaikh (para syaikh). Merekalah yang paling tunduk dan mengikuti dalil dan petunjuk, lebih bersemangat dalam mengilmui, mengamalkan dan mendakwahkan sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yang shohih. Berbeda dengan para pengikut jama’ah-jama’ah yang mendasari pemikiran-pemikiran mereka di atas ketaatan mutlaq, yang bila dilihat dengan kacamata islami maka dia (pimpinannya) tidak berhak untuk dijadikan sebagai tempat bertanya, membantah atau dimintai dalil dan keterangan.
Adapun apa yang telah terjadi dari perilaku sebagian orang yang demikian itu jika mereka menisbahkan dirinya kepada dakwah salafiyah, alhamdulillah ini jarang terjadi serta sedikit jumlahnya. Maka jika yang ditanya itu adalah orang yang jahil tentang hakikat jalannya salaf tentunya cercaan itu akan kembali kepada si jahil tersebut.

Bagaimana pendapat kalian jika kalian melihat perilaku umat islam yang telah dikritik oleh orang-orang Nashrani bahwa sebagian mereka terjatuh dalam perbuatan zhalim, keji, intimidasi, melampau batas dan jelek, apakah setelah itu cercaan yang seperti ini akan mengenai Islam? Naudzubillah.
Demikianlah hukuman jahat yang muncul dari penganut akal dengan mengatakan, “Setiap jama’ah memiliki kesalahan tanpa terkecuali manhaj salaf. Sungguh dia telah mencampur adukkan antara yang haq dan batil serta tidak muncul dari mereka kecuali kebodohan yang nyata.” Dan masih ada kebodohan dalam bentuk lain yaitu “berdalil dengan kuantitas”, artinya bahwa jalan fulan ini banyak yang mengikutinya, apakah jalan itu benar atau tidak. Mereka mencerca salafiyin karena sedikit pengikutnya dan mereka (penganut akal) berbangga karena pemikiran-pemikiran dan kitab-kitab mereka laku di pasaran.
Banyak pengikut itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil kebenaran. Begitupula sedikitnya pengikut tidak bisa jadi bukti ketidakbenaran, karena hal ini tidak ada dasarnya, baik dari syari’at maupun kenyataan. Adapun dalil dari syari’at:
Firman Alloh Ta’ala:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.” (QS. Al An’am: 116).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ
“Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud: 40).
Adapun menurut kenyataan, bahwa orang-orang kafir berlipat-lipat jumlahnya dibanding dengan orang-orang Islam. Bahkan orang Nashrani lebih banyak dari kaum Muslimin. Setengah juta orang-orang Barat berkumpul di lapangan untuk menyaksikan, mendengarkan, mendengarkan seorang penyanyi, berdansa dan berdrama. Pada sebagian acara-acara TV seperti drama dan nyanyian-nyanyian disaksikan pada waktu yang bersamaan oleh kurang lebih sepuluh juta orang. Sebagian kitab-kitab nujum (sihir) dibeli kurang lebih oleh sepuluh juta orang. Yang menghadiri acara kelahiran al-Badawi adalah masyarakat yang sangat banyak sampai mencapai dua juta orang.
Apakah masuk akal jika kita beralasan karena banyaknya penggemar menunjukkan bahwa jalan mereka adalah benar dan mereka adalah orang-orang yang dicintai di sisi Alloh. Inilah alat ukur orang-orang jahil dan orang-orang yang tertipu. Adapun para penganut kebenaran mengetahui bahwa sedikit-banyak jumlah pengikut bukanlah ukuran. Bahkan, terkadang yang sedikit jumlahnya lebih dekat kepada kebenaran. Artinya bahwa pemegang kebenaran itu sedikit.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Telah ditampilkan atasku umat-umat terdahulu, maka aku melihat seorang nabi dengan pengikutnya “rothun” (di bawah sembilan di atas tiga) dan seorang nabi bersama satu pengikut atau dua orang dan seorang nabi tidak membawa pengikut.”
(HR. Muslim (Kitabul Iman, hal. 374).
Apakah boleh seseorang menghakimi para nabi dengan mengatakan, bahwa jalan mereka salah atau mereka gagal dalam berdakwah? Semoga Alloh melindungi kita.
(dari buku: “Adwa’un ‘ala Kutubus-Salafi fil-Aqidati”. Terjemahan: “Berkenalah dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula)”, penerbit: “Maktabah Salafy Press – Tegal).