>

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“…akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaisirah –ed) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan hidup (tidak membunuh) orang-orang kafir. Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum’ ‘Ad.”
(Muttafaq ‘Alaihi)
Berbicara tentang DI/TII maka tak lengkap rasanya jika kita tidak sekalian membahas tentang tokoh-tokoh utamanya, lebih khusus lagi sang pemimpin gerakan tersebut yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo (S.M. Kartosuwirjo). Pada periode 1968 hingga 1998, kita mengetahui lewat buku-buku sejarah bahwa dia adalah sosok revolusioner atau pemberontak. Tetapi setelah Indonesia memasuki masa reformasi, muncul pendapat baru yang menyebut bahwa dia tidaklah melakukan pemberontakan. Benarkah demikian?
Biografi S.M. Kartosuwirjo.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo demikian nama lengkap dari Kartosoewirjo, dilahirkan 7 Januari 1907 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Kota Cepu ini menjadi tempat di mana budaya Jawa bagian timur dan bagian tengah bertemu dalam suatu garis budaya yang unik.

Ayahnya, yang bernama Kartosoewirjo, bekerja sebagai mantri pada kantor yang mengkoordinasikan para penjual candu di kota kecil Pamotan, dekat Rembang. Pada masa itu mantri candu sederajat dengan jabatan Sekretaris Distrik. Dalam posisi inilah, ayah Kartosoewirjo mempunyai kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu, menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan garis sejarah anaknya. Kartosoewirjo pun kemudian mengikuti tali pengaruh ini hingga pada usia remajanya.
Dengan kedudukan istimewa orang tuanya serta makin mapannya “gerakan pencerahan Indonesia” ketika itu, Kartosoewirjo dibesarkan dan berkembang. Ia terasuh di bawah sistem rasional Barat yang mulai dicangkokkan Belanda di tanah jajahan Hindia. Suasana politis ini juga mewarnai pola asuh orang tuanya yang berusaha menghidupkan suasana kehidupan keluarga yang liberal. Masing-masing anggota keluarganya mengembangkan visi dan arah pemikirannya ke berbagai orientasi. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang tinggal di Surakarta pada tahun 50-an yang hidup dengan penuh keguyuban, dan seorang kakak laki-laki yang memimpin Serikat Buruh Kereta Api pada tahun 20-an, ketika di Indonesia terbentuk berbagai Serikat Buruh.
Pada tahun 1911, saat para aktivis ramai-ramai mendirikan organisasi, saat itu Kartosoewirjo berusia enam tahun dan masuk Sekolah ISTK (Inlandsche School der Tweede Klasse) atau Sekolah “kelas dua” untuk kaum Bumiputra di Pamotan. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan sekolah ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Rembang. Tahun 1919 ketika orang tuanya pindah ke Bojonegoro, mereka memasukkan Kartosoewirjo ke sekolah ELS (Europeesche Lagere School). Bagi seorang putra “pribumi”, HIS dan ELS merupakan sekolah elite. Hanya dengan kecerdasan dan bakat yang khusus yang dimiliki Kartosoewirjo maka dia bisa masuk sekolah yang direncanakan sebagai lembaga pendidikan untuk orang Eropa dan kalangan masyarakat Indo-Eropa.
Semasa remajanya di Bojonegoro inilah Kartosoewirjo mendapatkan pendidikan agama dari seorang tokoh bernama Notodihardjo yang menjadi “guru” agamanya. Dia adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah. Tidak berlebihan ketika itu, Notodihardjo sendiri kemudian menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam alam pikir Kartosoewirjo. Pemikiran-pemikirannya sangat mempengaruhi bagaimana Kartosoewirjo bersikap dalam merespon ajaran-ajaran agama Islam. Dalam masa-masa yang bisa kita sebut sebagai the formative age-nya.
Pada tahun 1923, setelah menamatkan sekolah di ELS, Kartosoewirjo pergi ke Surabaya melanjutkan studinya pada Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi. Pada saat kuliah inilah (l926) ia terlibat dengan banyak aktivitas organisasi pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya.
Selama kuliah Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Islam. Ia mulai “mengaji” secara serius. Saking seriusnya, ia kemudian begitu “terasuki” oleh shibghatullah sehingga ia kemudian menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya kemudian hanya untuk mempelajari Islam semata dan berbuat untuk Islam saja. Dia pun kemudian sering meninggalkan aktivitas kuliah dan menjadi tidak begitu peduli dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh sekolah Belanda, tentunya setelah ia mengkaji dan membaca banyak buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, dari kedokteran hingga ilmu-ilmu sosial dan politik.
Dengan modal ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak sedikit itu, ditambah ia juga memasuki organisasi politik Sjarikat Islam di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto banyak mempengaruhi sikap, tindakan dan orientasi Kartosuwirjo. Maka setahun kemudian, dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menjadi aktivis politik, dan didapati memiliki sejumlah buku sosialis dan komunis yang diperoleh dari pamannya yaitu Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal pada zamannya. Sekolah tempat ia menimba ilmu tidak berani menuduhnya karena “terasuki” ilmu-ilmu Islam, melainkan dituduh “komunis” karena memang ideologi ini sering dipandang sebagai ideologi yang akan membahayakan. Padahal ideologi Islamlah yang sangat berbahaya bagi penguasa yang zhalim. Tidaklah mengherankan, kalau Kartosuwirjo nantinya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran politik sekaligus memiliki integritas keislaman yang tinggi. Ia adalah seorang ulama besar, bahkan kalau kita baca tulisan-tulisannya, kita pasti akan mengakuinya sebagai seorang ulama terbesar di Asia Tenggara.
Aktivitas Kartosoewirjo
Semenjak tahun 1923, dia sudah aktif dalam gerakan kepemudaan, di antaranya gerakan pemuda Jong Java. Kemudian pada tahun 1925, ketika anggota-anggota Jong Java yang lebih mengutamakan cita-cita keislamannya mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB). Kartosoewirjo pun pindah ke organisasi ini karena sikap pemihakannya kepada agamanya. Melalui dua organisasi inilah kemudian membawa dia menjadi salah satu pelaku sejarah gerakan pemuda yang sangat terkenal, “Sumpah Pemuda”.
Selain bertugas sebagai sekretaris umum PSIHT (Partij Sjarikat Islam Hindia Timur), Kartosoewirjo pun bekerja sebagai wartawan di koran harian Fadjar Asia. Semula ia sebagai korektor, kemudian diangkat menjadi reporter. Pada tahun 1929, dalam usianya yang relatif muda sekitar 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi redaktur harian Fadjar Asia. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, mulailah dia menerbitkan berbagai artikel yang isinya banyak sekali kritikan-kritikan, baik kepada penguasa pribumi maupun penjajah Belanda.
Ketika dalam perjalanan tugasnya itu dia pergi ke Malangbong. Di sana bertemu dengan pemimpin PSIHT setempat yang terkenal bernama Ajengan Ardiwisastera. Di sana pulalah dia berkenalan dengan Siti Dewi Kalsum putri Ajengan Ardiwisastera, yang kemudian dinikahinya pada bulan April tahun 1929. Perkawinan yang sakinah ini kemudian dikarunia dua belas anak, tiga yang terakhir lahir di hutan-hutan belantara Jawa Barat. Begitu banyaknya pengalaman telah menghantarkan dirinya sebagai aktor intelektual dalam kancah pergerakan nasional.
Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia masuk sebuah organisasi kesejahteraan dari MIAI (Madjlis Islam ‘Alaa Indonesia) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut.
Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga Suffah yang pernah dia bentuk. Namun kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.
Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Sesungguhnya dia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Tetapi proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada Republik dan menerima dasar “sekuler”-nya.
Namun sejak kemerdekaan RI diproklamasikan (17 Agustus 1945), kaum nasionalis sekulerlah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang sekuler. Semenjak itu kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 70-an kalangan Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan Islam dan kaum nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dapat disebut sebagai pertentangan antara Islam dan negara.
Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara pemerintah Republik dengan Belanda. Di mana pada perjanjian tersebut berisi antara lain gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Sementara pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, maka menjadi pil pahit bagi Republik. Tempat-tempat penting yang strategis bagi pasukannya di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur –atau “kabur” dalam istilah orang-orang DI– ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, Tentara Republik resmi dalam Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuan-ketentuannya. Soekarno menyebut “kaburnya” TNI ini dengan memakai istilah Islam, “hijrah”. Dengan sebutan ini dia menipu jutaan rakyat Muslim. Namun berbeda dengan pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah lebih tahu apa makna “hijrah” itu.
Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat yang fobi dengan Negara Islam sebagai “Islam muncul dalam wajah yang tegang.” Bahkan, peristiwa ini dimanipulasi sebagai sebuah “pemberontakan”. Kalaupun peristiwa ini disebut sebagai sebuah “pemberontakan”, maka ia bukanlah sebuah pemberontakan biasa. Ia merupakan sebuah perjuangan suci anti-kezhaliman yang terbesar di dunia di awal abad ke-20 ini. “Pemberontakan” bersenjata yang sempat menguras habis logistik angkatan perang Republik Indonesia ini bukanlah pemberontakan kecil, bukan pula pemberontakan yang bersifat regional, bukan “pemberontakan” yang muncul karena sakit hati atau kekecewaan politik lainnya, melainkan karena sebuah “cita-cita”, sebuah “mimpi” yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam yang lurus.
Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur l962, menyatakan bahwa perjuangan suci Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah “pemberontakan”. Hukuman mati kemudian diberikan kepada mujahid Kartosoewirjo.
Kartosuwirjo, antara mujahid dan pemberontak.
Disebutkan dalam biografi di atas bahwa Kartosuwirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia di wilayah Jawa Barat yang menurut perjanjian Renvile adalah wilayah Federal terpisah dengan Republik Indonesia yang hanya mencakup Yogyakarta saja. Benarkah terjadi kekosongan kekuasaan di Jawa Barat, sehingga dia dengan leluasa bisa mendirikan pemerintahan sendiri?
Jika kita melihat kembali perjanjian itu, isinya memang merugikan pihak Republik karena cakupan wilayah Republik menjadi lebih sempit, yakni hanya Yogyakarta saja. Selain itu, seluruh pasukan TNI diharuskan pindah ke Yogyakarta tak terkecuali Divisi Siliwangi yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah Jawa Barat. Perintah untuk pengosongan dan pindah ke wilayah Republik itu datangnya langsung dari Presiden Soekarno, kepala negara sekaligus waliyul amri bagi kaum Muslimin Indonesia ketika itu. Adapun Kartosuwirjo dan kawan-kawan tidak mau mematuhi perintah tersebut dan memilih bertahan di wilayah Jawa Barat. Dilihat dari unsur yang satu ini saja kita sudah bisa menyebut bahwa mereka telah melakukan pembangkangan! Perhatikan dalil-dalil berikut:
 1. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’: 59)
2. Dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menyebabkan hati tergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata, “Ya Rosululloh, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!” Beliau bersabda,
“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Alloh mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kamu adalah seorang budak (Habbasyi/Ethiopia). Dan sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang terbimbing dan lutus. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan jauhilah oleh kalian berbagai perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam ajaran Islam -ed) adalah sesat. “
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
3. Dari Al Harits bin Basyir, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Aku perintahkan kalian dengan lima perkara, yang Alloh telah memerintahkan aku dengannya: Mendengar, Ta’at (kepada pemerintah), Jihad, Hijrah, dan (berpegang teguh dengan) Al Jama’ah.”
(HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Abi ‘Ashim).
4. Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang taat kepadaku, sungguh dia telah taat kepada Alloh. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, sungguh dia telah durhaka kepada Alloh. Barangsiapa mentaati amir (penguasa), sungguh dia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa mendurhakai (menentang) amir sungguh dia telah durhaka kepadaku.”
(HR. Bukhari, Muslim, An Nasa’i).
5. Dari  Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Wajib atas seorang Muslim (untuk) mendengar dan taat (terhadap pemerintah) pada apa yang ia suka maupun yang ia benci, kecuali jika diperintah (untuk) berbuat maksiat. Jika diperintah untuk bermaksiat, maka tidak (boleh) mendengar dan taat.”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
6. Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya suatu (kerusakan/kezhaliman) hendaknya dia bersabar. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (penguasa) sejengkal saja kemudian mati, maka matinya (di atas) jahiliyyah.”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
7. Dari Huzdaifah Ibnul Yaman, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya  adalah hati syaithan dalam wujud manusia.” Aku (Huzdaifah) bertanya: “Apa yang harus aku perbuat jika aku mendapatinya, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “(Hendaknya kamu tetap) mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, (tetap bersikaplah) mendengar dan taat.”
(HR. Muslim).
8. Dari ‘Adi bin Hatim rodhiyallohu ‘anhu, berkata, Kami bertanya:
“Ya Rosululloh, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (penguasa) yang bertakwa, akan tetapi bagaimana dengan (penguasa) yang berbuat (demikian) dan yang berbuat (demikian) –‘Adi bin Hatim menyebutkan beberapa perbuatan jahat (penguasa tersebut)- maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Alloh dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka).”
(HR. Ibnu Abi ‘Ashim).
9. Dari Ummu Salamah berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa membencinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa yang mengingkarinya (berarti) dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang meridhainya dan mengikutinya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, Apakah tidak kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan sholat.””
(HR. Muslim).
10. Dari Sahabat ‘Auf bin Malik Al Asyja’ rodhiyallohu ‘anhu, dengan lafazh, 
“Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab, “Jangan selama mereka masih mengerjakan sholat di tengah-tengah kalian.”
(HR. Muslim)
Intisari dari dalil-dalil yang telah di uraikan di atas adalah satu yakni wajibnya mentaati ulil amri sekalipun kebijakan yang mereka ambil tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dan kita kehendaki.
Dalam kasus ini, perjanjian Renville antara pihak Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda, di satu sisi memang sangat merugikan kaum Muslimin Indonesia, tetapi pada hakikatnya perundingan itu hampir sama substansinya dengan perjanjian Hudaibiyah, yang juga merugikan pihak Kaum Muslimin. Tetapi apakah ada yang membangkang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam setelah Beliau menandatangani perjanjian tersebut? Jika engkau (wahai para pengikut Kartosuwiryo) memang merasa alim dan mengerti tentang agama Islam, silakan buka dan baca kembali isi perjanjian Hudaibiyah dan sebut siapa sahabat yang membangkang Rosululloh ketika itu (jika kalian juga mengaku mengikuti sunnah Rosul dan Sahabat). 
Perhatikanlah dialog antara Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dengan ‘Umar bin Khaththab rodhiyallohu ‘anhu setelah disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah berikut (Diambil dari Sirah Nabawiyah, Shafiyyurahman Mubarakfury):

Datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, ‘Umar bin Khaththab kemudian berkata, “Ya Rosululloh, bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?”

Beliau berkata, “Benar.”

Kemudian ‘Umar pun berkata, “Bukankah para korban-korban perang kita yang terbunuh, mereka berada di surga, sedangkan korban-korban mereka berada di neraka?”

Beliau menjawab, “Benar.”

‘Umar bertanya, “Lalu mengapa kita memberikan hal yang lebih rendah di dalam agama kita dan memilih kembali pulang? Mengapa pula Alloh belum menurunkan ketentuan hukum antara kita dengan mereka?”

Beliau pun menjawab, “Wahai Ibnul Khaththab, aku benar-benar Rosul Alloh dan aku tidak melakukan maksiat kepada-Nya! Ia adalah penolongku dan Ia tidak akan menyia-nyiakanku selama-lamanya.”

Kemudian ‘Umar pergi menuju Abu Bakar dalam keadaan jengkel dan mengatakan apa yang ia telah katakan kepada Rosululloh. Maka Abu Bakar pun menjawab seperti jawaban Rosululloh kepadanya, lalu berkata, “Peganglah ketentuannya sampai engkau mati. Demi Alloh, sungguh ia benar-benar di atas kebenaran.”

Selanjutnya Alloh Ta’ala menurunkan wahyu (artinya), “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kalian kemenangan yang nyata.” (QS. Al Fath: 1) dan ayat-ayat berikutnya.

Lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mengutus untuk disampaikan kepada ‘Umar dan dibacakan wahyu tersebut kepadanya. ‘Umar kemudian bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah ini sebuah kemenangan?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka hati ‘Umar baru mau menerima dan ia pun rujuk. Kemudian ia menyesal telah bersikap menyepelekan Rosululloh. Karena penyesalannya itu, ia selanjutnya melakukan banyak amalan.
Di awal memang nampak kekecewaan ‘Umar bin Khaththab rodhiyallohu ‘anhu, tetapi akhirnya beliau mau menerima ketentuan dan keputusan yang telah diambil oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Disini jelas bahwa apa yang ditunjukkan oleh ‘Umar berbeda jauh dengan Kartosuwirjo dan kawan-kawan. Mereka lebih menempuh jalan yang diambil oleh Dzulkhuwaisirah, yakni melakukan pembangkangan.
Maka bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa SM. Kartosuwirjo adalah pemberontak bukan mujahid. Jika ia ingin disebut mujahid maka ia harus menempuh jalan yang ditempuh oleh ‘Umar dalam perjanjian Hudaibiyah. Perundingan Renville merupakan satu kerugian bagi kaum Muslimin Indonesia dan keuntungan bagi Kuffar Belanda. Tetapi jika kita mau memahami hakikatnya, maka sesungguhnya perundingan itu adalah awal dari kemenangan (sebagaimana Perjanjian Hudaibiyah). Meskipun pihak Belanda melancarkan Agresi ke-2 pada 18 Desember 1948, tetapi agresi tersebut mendapat kecaman dari masyarakat Internasional dan pihak Republik berhasil menempuh dua perjuangan sekaligus yakni melalui perundingan (Roem Royen hingga KMB) dan pertempuran (Serangan Umum 1 Maret 1949) sehingga memaksa Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada Desember 1949.
Kartosuwirjo, Pelopor Neo-Khawarij Indonesia.
Bahkan kita bisa menyebut sepeninggal Kartosuwirjo, bermunculan generasi pembangkang berikutnya yang mengatasnamakan Islam, atau bisa disebut sebagai Neo-Khawarij (Indonesia) seperti Imran bin Muhammad Zain (pelaku pembajakan Pesawat Garuda pada tahun 1981), Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar, Imam Samudra dkk, hingga Azahari dan Noordin M. Top.
Wallohu A’lam 
Referensi: