>

Zubair bin ‘Awwam rodhiyallohu ‘anhu adalah seorang pahlawan besar. Namanya tertulis dalam sejarah perjuangan menegakkan kalimat Alloh. Pujian dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam merupakan bukti kemuliannya. Pada suatu hari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam berkata, 
“Setiap nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah Zubair.”
Dengan sabda inilah Zubair dijuluki dengan Hawari Rosululloh. Hawari adalah kekasih yang dekat, yang tulus dalam segala hal dan selalu membela sahabatnya. 
Beliau masuk Islam pada umur 8 tahun. Keimanannya begitu kokoh. Suatu hari, pamannya yang kafir menyiksa beliau dengan sangat kejam. Beliau diikat dan diasapi dengan api. Lalu disuruh kembali kepada agama nenek moyangnya. Dengan tegas Zubair menjawab, 
“Aku tidak akan kufur selama-lamanya.”

Ketika Zubair mendengar berita bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam ditawan, beliau langsung keluar menghunus pedangnya. Siap membunuh orang yang telah menawan kekasihnya. Padahal beliau baru berumur 12 tahun. Ketika Rosululloh menjumpainya, beliau mendo’akan kebaikan baginya, Karena peristiwa inilah, Zubair bin “Awwam rodhiyallohu ‘anhu dikatakan sebagai orang yang pertama kali menghunus pedangnya di jalan Alloh.
Dia seorang penunggang kuda yang pemberani sejak kecil. Keberaniannya di medan tempur tidak diragukan lagi. Betapa banyak korban dari pihak musuh akibat babatan pedangnya. Anaknya yang bernama ‘Urwah pernah berkata, 
“Sewaktu masih kecil, aku pernah bermain-main dengan memasukkan jari-jemariku ke tubuh ayahku pada lubang bekas luka tikaman.”
Ini menunjukkan bahwa tikaman-tikaman itu meninggalkan bekas yang jelas pada tubuh Zubair bin ‘Awwam rodhiyallohu ‘anhu
Hawari Rosululloh wafat pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. Beliau dibunuh Ibnu Jurmuz. Pembunuh Zubair menghadap ‘Ali dengan membawa pedang Zubair. Ketika itu ‘Ali mengatakan,
“Berilah kabar buruk kepada pembunuh Ibnu Shofiyyah (yaitu Zubair) dengan neraka!”
Diambil dari Buku “Kisah 20 Shohabat Peraih Janji Surga” karya Abu ‘Umar Ibrohim dan Abu Muhammad Miftah. Penerbit: Hikmah Anak Sholih – Yogyakarta. (dengan sedikit edit dari redaksi).