>

Blue hills 
oleh: Al Ustadz Qomar Suaidi, LC hafizahullohu
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
 وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Dan didekatkanlah al jannah (surga) itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Alloh) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Robb Yang Maha Pemurah sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman. Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan di sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mendekatkan jannah (surga) bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga surga begitu dekat dengan mereka. Terlihat berbagai macam kenikmatan yang ada di dalamnya. Ini sebagai buah dari ketakwaan mereka kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dimana mereka menjauhi segala macam kesyirikan, yang kecil maupun besar, melaksanakan perintah-perintah Robb mereka dan tunduk kepada-Nya. Kedekatan ini merupakan wujud janji Alloh Subhanahu Wa Ta’ala kepada mereka dan Alloh tidak akan menyelisihi janji-Nya.
Apa sifat-sifat mereka yang akan mendapatkan janji Alloh tersebut?

Pertama: Awwah.
Yakni orang yang senantiasa kembali kepada Alloh, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kepada ingat Alloh. Al Imam Mujahid rohimahullohu mengatakan:
“Dia adalah seorang yang bila ingat dosanya, dia meminta ampun dari dosanya.”
Sehingga setiap saat kembali kepada Alloh dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, mohon pertolongan kepada-Nya, berdo’a kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya.
Kedua: Hafizh.
Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu mengatakan:
“(Yakni menjaga) apa yang Alloh amanahkan kepadanya dan Alloh wajibkan atasnya.”
Qotadah rohimahullohu mengatakan, “Menjaga apa yang Alloh titipkan kepadanya berupa hak-hak dan nikmat-nikmat-Nya.”
Ibnul Qayyim menjelaskan:
“Ketika jiwa itu punya dua kekauatan, yaitu kekuatan untuk berbuat dan kekuatan untuk menahan, maka sifat awwab digunakan pada kekuatan perbuatannya untuk kembali kepada Alloh, keridhaan dan ketaatan kepada-Nya. Sedangkan hafizh digunakan pada kekuatan penjagaannya dalam menahan diri dari maksiat dan larangan-Nya. Sehingga hafizh adalah yang menahan diri dari apa yang diharamkan atasnya. Dan awwab adalah yang menghadapkan dirinya kepada Alloh dengan ketaatan kepada-Nya.”
Asy Syaikh As Sa’di rohimahullohu menjelaskan, “Ia menjaga apa yyang Alloh perintahkan kepadanya dengan merealisasikannya dengan ikhlas dan sempurna, sesempurna-sempuranya, serta menjaga batasan-batasannya.”
Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullohu menjelaskan, “Tidak menyia-nyiakan perintah-Nya dan tidak menyebutnya dengan kemalasan, bahkan ia bersemangat padanya.”
Ketiga: Khasyyaturrahman bil ghaib.
Ini memiliki dua makna. Makna pertama, takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala walaupun tidak ada yang melihatnya kecuali Alloh. Sifat ini mengandung keimanannya terhadap wujud Alloh, rububiyah dan kemampuan-Nya, serta ilmu dan pengetahuan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Juga mengandung keimanan terhadap kitab-Nya, Rosul-Nya, perintah dan larangan-Nya, serta keimanan terhadap janji, ancaman, dan perjumpaan dengan-Nya. Tidak sah rasa takut kepada Alloh padahal dia tidak melihat-Nya, kecuali dengan ini semua.
Ibnu Katsir rohimahullohu menjelaskan, “Yakni seseorang yang takut kepada Alloh dalam keadaan sendirian, dimana tidak seorang pun melihatnya kecuali Alloh.”
Sehingga rasa takut semacam ini tidak mungkin terwujud kecuali jika dia tahu tentang Alloh dan sifat-sifat-Nya, tahu bahwa Alloh Maha Melihat dan Mendengar serta Maha Mengetahui.
Takut semacam inilah takut yang hakiki. Karena takut yang hakiki adalah takut yang berdasarkan ilmu, sehingga rasa takut ini diiringi dengan rasa pengagungan terhadap Alloh.
Adapun takutnya seseorang kepada Alloh saat dilihat manusia atau di hadapan mereka, bisa jadi itu hanya karena riya’ atau sum’ah (ingin didengar dan disanjung orang bahwa dia baik). Sehingga hal ini tidak menunjukkan rasa takutnya kepada Alloh. Jadi takut yang bermanfaat adalah takut kepada Alloh saat sendirian dan saat dihadapan manusia.
Makna yang kedua, ia takut kepada Alloh walaupun ia tidak melihat-Nya. Alloh tetapi ia melihat ayat-ayat Alloh yang menunjukkan adanya Alloh.
Keempat: Datang dengan qolbu yang munib.
Yakni qolbu yang bertaubat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Ibnu Katsir rohimahullohu, “Yakni dia berjumpa dengan Alloh membawa qolbu yang selamat (dari dosa dan maksiat), pasrah kepada-Nya, dan tunduk dihadapan-Nya.
Yakni ia wafat dalam keadaan kembali kepada Alloh, seperti Firman Alloh:
وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102).
Yakni ia senantiasa bertaubat kepada Alloh sampai ia wafat. Dan amalan itu tergantung dengan penutupnya. Semoga Alloh menutup amal kita dengan kebaikan. Untuk mereka yang memiliki empat sifat tersebut, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala katakan:
ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 34-35).
Sumber: Majalah Asy Syari’ah No.57/V/1431H/2010.