>

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
“Sesungguhnya Alloh telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At Taubah: 25)
Tidak sedikit dari kita yang begitu berbangga diri ketika majelis kita dihadiri oleh jama’ah dalam jumlah besar. Tidak sedikit dari kita yang berbangga diri ketika memiliki banyak teman di situs jejaring sosial Facebook dan Friendster. Tidak sedikit dari kita yang berbangga diri ketika memiliki banyak “followers” di Twitter. Dan lain sebagainya. Wallohu Musta’an. Tetapi sadarkah kita bahwa jumlah banyak itu sebenarnya bukanlah ukuran suatu maslahat, kebaikan dan kebenaran. Yang ada kebanyakan dari kita adalah sikap arogan atas banyaknya jama’ah atau pengikut tersebut.
Islam pada Masa Permulaan.
Di awal masa pelaksanaan dakwah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, pengikut Islam sangatlah sedikit. Tercatat bahwa pada permulaannya Islam hanya dianut oleh 4 (empat) orang saja, yaitu Khadijah bintu Khuwailid rodhiyallohu ‘anha, Abu Bakar Ash Shiddiq, ‘Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dan Zaid bin Haritsah. Ketika itu, dakwah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam masih dalam fase secara sembunyi-sembunyi karena pada saat itu ancaman dari kaum kafir Quraisy Makkah bisa terjadi secara tiba-tiba, karena mereka sangat keras menentang dakwah yang dibawakan oleh Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam.

Memang kemudian Islam semakin lama semakin berkembang, semakin banyak pula yang masuk Islam, termasuk ‘Umar bin Khaththab rodhiyallohu ‘anhu dimana ketika beliau masuk Islam, maka wibawa Kaum Muslimin pun menjadi terangkat, walaupun masih berada di bawah ancaman kaum kuffar. Apalagi ketika itu belum ada syari’at tentang jihad perang.

Jumlah Pasukan Islam pada Perang Badar.
Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hjriyah. Pasukan kaum Muslimin ketika itu berkekuatan 313 personil, sementara kaum Kafir Quraisy berjumlah 1.000 personil. Jauh hampir tiga kali lipat daripada pasukan Muslim. Tetapi apa yang  terjadi kemudian? Atas izin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, pasukan Kaum Muslimin yang berjumlah sedikit itu mampu mengalahkan 1.300 pasukan Kafir. Hal ini disebut di dalam Firman-Nya:
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Alloh-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Alloh-lah yang melempar. (Alloh berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 17)
Dalam peperangan itu, pasukan Kafir Quraisy kehilangan 140 orang dengan rincian 70 orang terbunuh dan 70 sisanya ditawan. Sedangkan dari pihak Muslimin hanya kehilangan 14 orang saja (6 Muhajirin dan 8 Anshar). Inilah salah satu bukti bahwa jumlah besar dan banyak bukanlah jaminan bisa memenangkan suatu peperangan.
Senada dengan Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Alloh akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar.”” (QS. Al Baqarah: 249).
Kebanggaan Jumlah Besar adalah Perilaku Jahiliyah.
Termasuk salah satu perkara Jahiliyah adalah berdalil dengan banyaknya pengikut untuk suatu kebenaran dan berdalil dengan sedikitnya pengikut untuk selain kebenaran (batil). Menurut mereka yang banyak pengikutnya itulah yang benar dan yang sedikit pengikutnya itulah yang batil (tidak benar). Demikian timbangan mereka dalam kebenaran dan kebatilan.
Jadi kebanggaan dengan banyaknya pengikut apalagi bila itu dijadikan standard untuk menentukan kebenaran dan kebatilan adalah salah satu daripada perilaku Jahiliyah.
Jumlah Banyak Justru akan Mencelakakan.
Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh).” (QS. Al An’am: 116).
Dan perhatikan juga Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang telah disebutkan di awal pembahasan ini. Maka kita bisa ambil suatu faidah  banyaknya pengikut itu bukanlah ukuran kebenaran dan kebatilah, serta bukan pula jaminan bahwa kita akan bisa memenangkan suatu peperangan dengan jumlah pasukan yang lebih banyak.
Kesimpulan dan Faidah.
Dari pembahasan ini bisa kita tarik kesimpulan dan ambil satu pelajaran yakni janganlah kita membangga-banggakan diri dengan jumlah banyak karena itu bukanlah standard kebenaran ataupun jaminan bahwa kita bisa lebih unggul dengan jumlah banyak itu. Kisah Perang Badar telah membuka mata kita bahwa dengan kekuatan 313 pasukan dan dalam keadaan berpuasa, kaum Muslimin bisa memenangkan peperangan. Jika kita berpedoman pada banyaknya jama’ah atau pengikut untuk dijadikan suatu standard kebenaran, maka ketahuilah bahwa itu adalah salah satu perilaku Jahiliyah. Wallohu A’lam.
Referensi:
  • Al Qur’an dan Terjemahan (HaditsWeb 3.0).
  • Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab. 2002. Perilaku dan Akhlak Jahiliyah. Maktabah Salafy Press – Tegal.
  • Shafiyyurahman Al Mubarakfury. 2009. Sirah Nabawiyah: Taman Cahaya di Atas Perjalanan Hidup Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Penerbit Ash Shaf Media – Tegal.