>

oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Rabi bin Hadi Al Madkhali hafizahullohu
Ilmu itu bukan karena banyak meriwayatkan dan tidak pula karena banyak pendapat-pendapat, akan tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dicampakkan di dalam hati, sehingga seorang hamba mengetahui al haq dan bisa membedakan antara yanh haq dan yang batil. Semua ini diungkapkan dengan ungkapan-ungkapan yang ringkas dan mencapai yang dimaksud. Begitulah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah diberikan padanya Jawami’ul wa Kalim dan ucapan-ucapan yang sangat ringkas. Berdasarkan inilah banyak larangan yang berkaitan dengan masalah kayanya dan kayanya (“qilla wal qolla”) (belum jelas kebenarannya).
Rosululloh bersabda:
“Sesungguhnya Alloh tidak mengutus seorang nabi kecuali sebagai pemberi kabar (apa yang datang dari Alloh) dan sesungguhnya ucapan-ucapan yang banyak adalah dari syaithon.”
(HR. Abdurrazaq (al-Mushannaf, 11/163, 164) dan ini termasuk dari mursal Mujahid dan dia dha’if (lemah) karena mursal.)
Apabila Rosululloh berkhtbah, beliau berkhotbah dengan simpel dan ringkas. Apabila beliau berbicara dalam satu pembicaraannya dan ada yang akan mengulangi kembali perkataan Rosululloh tersebut pasti bisa mengulanginya semuanya. Beliau berkata:
“Sesungguhnya sebagian bayyan (keterangan) adalah sihir.”
Beliau mengatakan yang demikian dalam rangka mencela hal tersebut bukan dalam rangka memuji sebagaimana yang disangka oleh orang. Barangsiapa yang menggali yang demikian itu, dia akan mengetahui dengan pasti.

Dalam riwayat Imam Tirmidzi dan selain beliau dari sahabat Abdullah bin “Amr secara marfu’ (sampai kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam):

“Sesungguhnya Alloh sangat membenci seorang lelaki yang banyak menyampaikan dengan cara menggerak-gerakkan lidahnya (rusak, kacau dan tidak teratur) sebagaimana sapi menggerak-gerakkan lidahnya.”
(HR. Imam Ahmad (2/165 dan 187), Abu Dawud (5005) dan Tirmidzi (2853) dengan lafazh Imam Tirmidzi).
Masih banyak hadits-hadits yang marfu’ dan mauquf (ucapan sahabat) seperti ucapan Umar, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Aisyah dan selain mereka dari sahabat yang semakna dengan di atas.
Wajib diyakini, bahwa tidak setiap orang yang banyak ucapan dan pembicaraannya dalam masalah ilmu adalah lebih berilmu daripada orang-orang yang demikian. Kita telah diuji dengan adanya orang-orang jahil yang meyakini terhadap sebagian orang-orang sekarang yang gemar menyibukkan diri dalam masalah banyak bicara adalah lebih berilmu dari orang-orang sebelumnya. Bahkan diantara mereka meyakini pada seseorang karena banyaknya keterangan dan ucapannya adalah lebih pandai dari orang-orang sebelumnya dari kalangan sahabat dan orang-orang sesudah mereka. Ini termasuk berprasangka buruk terhadap mereka dan menisbahkan mereka kepada kebodohan dan orang-orang yang kurang ilmu. “La haula wala quwwata illa billah.”
Benar apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu tentang para sahabat:
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit bebannya.”
Diriwayatkan juga yang semisalnya dari Ibnu Umar. Abdullah Ibnu Mas’ud juga berkata:
“Sesungguhnya kalian berada pada zaman, dimana ulama kalian banyak dan para khatibnya sedikit dan akan datang pula kepada kalian suatu zaman, dimana ulamanya sedikit dan para khatibnya banyak. Orang yang terpuji adalah orang yang banyak ilmunya dan sedikit bicaranya dan sebaliknya orang yang tercela adalah orang yang kurang ilmunya dan banyak bicaranya.”
Wahai saudaraku se-Islam, aku (penulis) telah banyak menukilkan ucapan al_Hafizh Ibnu Rajab rohimahullohu (silakan antum cek kembali pembahasan ini http://waqqash.blogspot.com/2010/02/ilmu-antara-manfaat-dan-tidak.html –red) dan aku yakin bahwa faidah yang kita dapat darinya adalah besar, wahai para penuntut ilmu, jika kita membandingkannya secara teliti antara ilmu salaf dan ilmu khalaf (orang-orang yang datang belakangan). Di antara faidah-faidahnya adalah:
  1. Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat.
  2. Ilmu yang bermanfaat kadang-kadang diketahui oleh orang-orang yang tidak bisa mengambil manfaat darinya. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan Alloh menyesatkannya di atas ilmu.” (QS. Al Jatsiyah: 23) .
  3. Kebencian dan pengingkaran ulama salaf terhadap ilmu jidal, khishom dan mira’ (ilmu debat, ilmu membantah) dalam agama.
  4. Al Mira’ dan al-jidal (debat dan membantah) adalah perkara bid’ah.
  5. Imam Malik sangat membenci orang-orang yang banyak bicara dan fatwa beliau menyerupakan orang-orang yang banyak bicara dalam agama dengan binatang yang sedang kehausan.
  6. Ulama salaf sederhana dalam ibadah (ungkapan pembicaraan) dan mereka sangat memperhatikan sunnah daripada jidal. Apabila mereka membantah para penyelisih terhadap sunnah, mereka bantah dengan cara lemah lembut dan sebaik-baik ibarat (bantahan) tanpa bertele-tele.
  7. Banyak ucapan dan pernyataan orang yang sekarang tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki kekhususan dalam bidang ilmu yang tidak dimiliki oleh salaf, akan tetapi menunjukkan bahwa mereka senang berbicara, ingin mendapat pujian dan juga menunjukkan sedikit wara’-nya.
  8. Al-Hafizh telah meneliti dan beliau mendapatkan bahwa ucapan sahabat lebih sedikit dari ucapan tabi’in, ucapan tabi’in lebih sedikit daripada ucapan tabi’uttabi’in dan begitu seterusnya. Semuanya ini memiliki arti dan makna.
  9. Khutbah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sholat Jum’at adalah sederhana artinya tingkas dan simpel tetapi sunnah ini telah dilalaikan oleh kebanyakan khotib-khotib Jum’at sekarang.
  10. Memakai kalimat-kalimat yang sulit dalam berbicara dan pura-pura fasih, serta banyak berbicara dalam masalah agama dan apa-apa yang berkaitan dengannya. ini bukan suatu yang terpuji dari sisi ulama salaf akan tetapi tercela.
  11. Adanya unsur penipuan dari seseorang yang banyak berbicara dan panjang khutbahnya, keluar dari tujuan wejangan khutbah tersebut. Menjadi jalan untuk menarik perhatian orang. Dan tidak akan tertipu dari orang-orang yang seperti itu kecuali orang-orang yang ganjil dan lemah akal.
Dari sini kita mengetahui perbedaan jalan yang telah ditempuh oleh para ulama yang robbaniyuh, tujuan mereka dan kelurusan mereka dalam memberikan bimbingan, dibanding jalan yang telah ditempuh oleh sebagian penuntut ilmu. Semoga Alloh memberikan mereka hidayah dan memberikan kita taufik-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tetap selalu terikat dengan manhaj salafus sholih ridwanallohu ajma’in, kembali kepada para ulama dengan keikhlasan dan jujur, agar terwujudnya persatuan pemillik al haq dan supaya jiwa mereka menjadi bersatu. Juga agar terwujud tolong-menolong dalam kebaikan dan bukan tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. Wabillahittaufiq
(dari buku: “Adwa’un ‘ala Kutubus-Salafi fil-Aqidati”. Terjemahan: “Berkenalah dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula)”, penerbit: “Maktabah Salafy Press – Tegal).