>

oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Rabi bin Hadi Al Madkhali hafizahullohu
Al Imam al-Hafizh Zainuddin Abul Faraj Abdurrahman bin Syihabuddin bin Ahmad bin Rajab Al Hambali menulis sebuah kitab dengan judul “Bayan Fadlu ‘ilmis Salaf’ ‘ala Ilmil-Khalaf” (Keutamaan ilmu salaf diatas ilmu khalaf). Kitab ini terkenal dan dipakai oleh umat Islam serta telah ditahqiq. Di dalamnya beliau menjelaskan, bahwa ilmu itu ada dua macam: ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Berikut saya akan ambil beberapa ucapan dan ungkapan beliau.
Ibnu Rajab dalam bukunya setelah menjelaskan apa yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat, lalu beliau menyebutkan bagian yang kedua (ilmu yang tidak bermanfaat pada halaman 16) dengan mengatakan:
“Sungguh Alloh telah menceritakan tentang suatu kaum yang telah diberi ilmu namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi mereka. Inilah ilmu yang bermanfaat pada zatnya saja akan tetapi pemiliknya tidak bisa mengambil manfaat darinya.”
Alloh Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
“Perumpamaan orang-orang yang dibebankan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al Jumu’ah: 5).

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab) kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat Kami tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah.” (QS. Al A’raf: 175-176).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
“Dan Alloh membiarkan dia sesat berdasarkan ilmunya.” (QS. Al Jatsiyah: 23).
Dalil ini berdasarkan orang yang menafsirkan ayat ( عَلَى عِلْمٍ ) “diatas ilmu” yaitu orang yang telah disesatkan oleh Alloh.”
Diantara ilmu ada yang disebutkan oleh Alloh tetapi dalam rangka mencela ilmu tersebut, yaitu seperti ilmu sihir. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ
“…Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan (kitab Alloh) dengan sihir itu, adalah baginya keuntungan di akhirat…..” (QS. Al Baqarah: 102).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Maka tatkala datang kepada mereka rosul-rosul (yang diutus kepada mereka) dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Alloh yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (QS. Ghafir: 83).
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Rum: 7).
As Sunnah juga telah menjelaskan pembagian ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat serta memintanya kepada ilmu yang bermanfaat. Di dalam Shahih Muslim dari sahabat Zaid bin Arqam bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Ya Alloh, aku memohon perlindungan-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tidak dikabulkan.”
(Shahih Muslim, 3/2088).
Ibnu Rajab dalam kitabnya Bayan Fadhu ‘Ilmis-Salaf’ ala  Ilmil Khalaf (halaman 51) berkata:
“Dari sederetan perkara-perkara yang diingkari oleh ulama salaf adalah ilmu jiddal (perdebatan), khisyam dan mira’ (bantah-membantah) dalam masalah-masalah yang sudah jelas halal dan haramnya. Karena ini bukanlah jalannya para imam Islam akan tetapi jalan yang dibuat-buat oleh mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama-ulama Iraq dan Khurasan dalam perselisihan yang terjadi antara madzhab Syafi’i dan Hanafi. Mereka mengarang kitab-kitab dalam masalah khilaf dan memperluas masalah pembahasan dan debat di dalam kitab tersebut. Semuanya itu adalah perkara baru yang diada-adakan, sehingga ilmu tersebut menjadikan diri-diri mereka tersibukkan. Semua itu telah diingkari oleh salaf sebagaimana diriwayatkan dalam hadits marfu’ yang termaktub dalam kitab sunan,
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah datang petunjuk kepadanya kecuali telah diberikan kepada mereka ilmu jiddal (debat), kemudian beliau membacakan (firman Alloh), 
مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Al Zukhruf: 58).
Sebagian ulama salaf mengatakan,
“Jika Alloh menginginkan kebaikan kepada seorang hamba maka Alloh akan bukakan baginya pintu beramal dan menutupi baginya ilmu jiddal (debat). Apabila Alloh meginginkan kejelekan bagi seorang hamba, maka Alloh menutup baginya pintu beramal dan membukakan baginya pintu jiddal.”
(Abu Nu’aim (Al Hilyah, 8/361), Al Khatib (Iqtidha’ul ‘Ilmi (hlm. 80)).
Imam Malik berkata, “Aku mendapati penduduk negeri ini, mereka membenci apa-apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang sekarang ini.” (Al Khathib, kitab al-Faqih wal Mutafaqih (2/9).
Yang dimaksud beliau adalah berkaitan dengan masalah-masalah di atas, yakni jiddal, khisham dan mira. Beliau sangat membenci banyak berbicara dan berfatwa, beliau berkata: “Setiap mereka berbicara seperti unta yang kehausan, mereka berkata dia demikian, dia demikian, mengigau tak karuan pembicaraannya.” Bahkan beliau (Imam Malik) tidak mau menjawab dalam banyak permasalahan, beliau menukilkan firman Alloh:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا
“Mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah bahwa ruh urusannya ada di tangan Robb-ku.” (QS. Al Isra’: 85).
Beliau (Imam Malik) berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tidak memberi jawaban dalam permasalahan itu.”
Ditanyakan kepada beliau, apakah seorang dikatakan alim tentang sunnah padahal dia selalu debat (membantah) dengannya? Beliau berkata, “Tidak, akan tetapi diberitahukan kepadanya sunnah tersebut, kalau dia mau menerima. Jika dia tidak menerima hendaknya diam.”
Beliau berkata, “Al Mira’ (suka debat) dan al-jidal (suka membantah) terhadap ilmu akan menghilangkan cahaya ilmu tersebut.” Beliau (Imam Malik) berkata, “Debat terhadap masalah ilmu akan dapat mengeraskan hati dan mewariskan kedengkian.” Dan beliau berkata dalam masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya, “Aku tidak mengetahuinya.”
Imam Ahmad mengikuti jalan beliau dalam masalah ini. Dan telah datang larangan agar jangan (disibukkan) oleh masalah-masalah khilafat fiqhiyah, permasalahan sepele serta permasalahan yang belum terjadi Permasalahan ini sangat panjang kalau dijabarkan.
Dari ucapan-ucapan ulama salaf dalam masalah ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Ishaq. Cukup jelas adanya peringatan agar berhati-hati dalam kesalahan-kesalahan fiqih dan hukum-hukum, dengan ucapan mereka yang ringkas tidak panjang dan tidak pula sulit untuk dipahami maksudnya. Dalam ungkapan-ungkapan mereka terdapat bantahan terhadap pendapat-pendapat yang menyelisihi sunnah dengan banhatan yang lemah lembut dan menggunakan ungkapan yang baik, hal ini cukup bagi orang yang memahaminya jika dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan ahli kalam. Terkadang ucapan mereka (ahlul kalam) dengan panjang lebar tidak mengandung unsur kebenaran tidak seperti yang dikandung oleh ucapan ulama salaf dengan ringkas dan pendek. Adapun diamnya mereka (ulama salaf) dari banyak debat dan membantah (khisham dan mira’) bukan karena bodoh atau lemah untuk berbuat itu dan takut kepada Alloh.
Bukankah orang-orang sesudah ulama salaf lebih banyak berbicara dan berdalam-dalam pada satu masalah atau satu ilmu tertentu, akan tetapi mereka cinta berbicara dan sedikit wara’. Sebagaimana ucapan al-Hasan al-Bashri ketika mendengar dua orang sering membantah:
“Mereka itulah orang-orang yang telah bosan dari beribadah, orang-orang yang telah lemah akal, sedikit wara’ sehingga mereka berbicara dalam masalah tersebut.”
(Al Khatib, dalam al-Faqih wal Mutafaqih (2/9)).
Ja’far bin Muhammad berkata:
“Berhati-hatilah kalian dari berdebat di dalam masalah agama karena akan menyibukkan hati yang dapat mewariskan nifaq.”
(Abu Nu’aim, dalam Al Hilyah (93/198)).
Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Apabila kamu mendengar mira’ (debat-mendebat) maka ringkaskanlah,” dan beliau berkata, “Barangsiapa yang menjadikan agamanya arena debat maka dia akan sering pindah (dari pemikiran ke pemikiran lain dan dari madzhab ke madzhab lain).”
(Ad-Darimi (1/91) dan al-Ajurri (Asy Syari’ah, halaman 56-57)).
Dalam kesempatan yang lain beliau berkata, “orang-orang terdahulu (salafus Sholih) mereka berhenti karena ilmu, dan mereka diam karena ilmu serta mereka sangat mampu kalau mereka mau mencarinya.” Tentu banyak lagi ucapan ulama salafus sholih dalam masalah ini.
Orang-orang yang sekarang telah terfitnah dengan keadaan semacam itu. Mereka menyangka bahwa banyak bicara, debat, membantah dalam agama lebih berilmu dibandingkan dengan orang yang tidak demikian. Ini termasuk dalam kebodohan semata. Lihatlah kepada para pembesar sahabat Nabi dan ulama-ulama mereka seperti Abu Bakar, ‘Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit, ucapan mereka lebih sedikit dari ucapan Ibnu Abbas padahal mereka lebih pandai darinya. Begitu juga ucapan tabi’in lebih banyak dari ucapan sahabat dan sahabat lebih berilmu dari mereka. Ucapan para pengikut tabi’in lebih banyak dari ucapan tabi’in padahal mereka (tabi’in) lebih mengetahui dari mereka.
(dari buku: “Adwa’un ‘ala Kutubus-Salafi fil-Aqidati”. Terjemahan: “Berkenalah dengan Salaf (Kajian Bagi Pemula)”, penerbit: “Maktabah Salafy Press – Tegal).