>

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Hakim dalam kitabnya Al Mustadrak, II/146 dari Sahabat Abu Barzah Al-Aslami, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam berkata:

“….dan mereka akan senantiasa muncul, hingga kemunculan kelompok terakhir mereka.”
Pemberontakan DI/TII dibawah pimpinan SM. Kartosuwirjo memang berhasil ditumpas pada tanggal 4 Juni 1962 dimana pimpinan gerakan tersebut bersama dengan para pengikutnya ditangkap oleh pasukan TNI dari Divisi Siliwangi melalui Operasi Baratayudha yang dilancarkan di Kawasan Gunung Geber, Majalaya Jawa Barat. SM. Kartosuwirjo kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Angkatan Darat.
Tetapi siapa sangka sepeninggal Kartosuwirjo, benih-benih neo-Khawarij malah muncul dan lantas tumbuh berkembang di negeri ini.

Peristiwa Woyla tahun 1981.
woyla
Kejadian ini bermula saat Pesawat Garuda Indonesia Airways dengan nomor penerbangan 206 rute Jakarta – Medan via Palembang dibajak oleh sekelompok teroris saat hendak menuju Medan. Diketahui bahwa pembajak berjumlah 5 orang. Dua penumpang bangkit dari tempat duduk mereka, satu menuju ke kokpit dan satu lagi berdiri di gang. Pada pukul 10.10 pesawat tersebut dikuasai oleh 5 pembajak, semuanya bersenjata. Pembajak di kokpit memerintahkan pilot untuk terbang ke Colombo, Srilanka, namun pilot berkata bahwa pesawat tersebut tidak memiliki cukup bahan bakar. Pesawat dialihkan ke Penang, Malaysia. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat diterbangkan kembali menuju Bandara Don Muang, Bangkok.
Tuntutan para teroris yaitu agar anggota Komando Jihad yang ditahan di Indonesia segera dibebaskan, dan uang sejumlah US$ 1,5 juta. Mereka juga meminta pesawat untuk pembebasan tahanan, untuk terbang ke tujuan yang rahasia. 5 orang teroris tersebut antaralain Machrizal, Zulfikar, Wendy Muhammad Zein, Abu Sofyan dan Imronsyah
Pada Selasa dinihari tanggal 31 Maret 1981, 30 Prajurit Kopassandha – TNI AD dibawah Komandan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan dan Koordinator Letjen TNI LB. Moerdani berhasil membebaskan penumpang Garuda DC-9 di Don Muang, Thailand. Peristiwa tersebut menjadi perhatian TNI dunia karena pesawat Garuda DC-9 yang biasa dipanggil Woyla merupakan penerbangan lokal dengan rute Jakarta – Medan (via Palembang). Awalnya pada 28 Maret 1981 pesawat tinggal landas dari Bandar Udara Talangbetutu, Palembang. Namun dalam perjalanan di udara 5 orang teroris dari kelompok Islam sempalan yang menuntut pada pemerintah melalui hubungan komunikasi telepon untuk membebaskan sejumlah tahanan dari Peristiwa Cicendo 11 Maret 1981, Teror Warman serta Kasus Komando Jihad. Bahkan meminta tuntutan tambahan berupa uang sebesar 1,5 juta dollar AS. Mereka mengancam jika tuntutan itu tidak dipenuhi akan meledakkan Woyla dan seluruh penumpangnya.
Menghadapi keinginan tersebut, TNI dan Pemerintah tidak menyerah. Melalui berbagai upaya diplomasi dengan pembajak juga Pemerintah Thailand, Kabakin dan Letjen LB. Moerdani berhasil mengulur waktu dan mendapat ijin dari Pemerintah Thailand. Oleh karena itu setelah rencana matang, pada Selasa dini hari pukul 02.45 WIB seluruh pintu pesawat Woyla didobrak 30 prajurit Kopassandha dan dapat melumpuhkan 3 pembajak dan 2 luka parah. Terdapat satu prajurit yang terkena tembakan yaitu Letnan Ahmad Kirang dan pilot Herman Rante. Sedangkan penumpang tidak satupun yang terluka. Peristiwa tersebut membanggakan Pemerintah, sehingga Presiden menganugerahkan Bintang Sakti kepada 30 prajurit anti teror dan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat.
Inilah generasi neo-Khawarij pasca DI/TII yang sebenarnya afiliasi kelompok teroris pembajak pesawat tersebut yakni Komando Jihad tidak jauh dari Darul Islam yang telah didirikan oleh Kartosuwirjo sebelumnya. Machrizal, Zulfikar, Wendy Muhammad Zein, Abu Sofyan dan Imronsyah merupakan generasi kedua neo-Khawarij di negeri ini sebelum kemunculan Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar, Dulmaltin dan Noordin M.Top.
Peledakan Bom Malam Natal 2000.
Tahun 2000 tepatnya setahun sejak dimulainya masa pemerintahan Reformasi setelah berakhirnya pemerintahan militer pimpinan Jenderal Soeharto, banyak terjadi gejolak di negeri ini. Salah satu yang paling besar adalah konflik dan pertumpahan darah di Ambon, yang melibatkan gerakan RMS yang memiliki tujuan memisahkan wilayah Maluku dari NKRI. Tetapi siapa sangka dari konflik tersebut justru muncul benih-benih radikalisme Islam yang tak lain adalah kelompok neo-Khawarij.
Sepak terjang neo-Khawarij di tahun 2000 dimulai pada tanggal 24 Desember 2000 yang bagi umat Nashrani adalah perayaan malam natal. Pada saat itu pula bertepatan dengan bulan Ramadhan. Berdasarkan informasi dari Mabes Polri, pada malam itu terjadi 23 kali ledakan yang tersebar di 9 kota di Indonesia yakni Batam, Pekanbaru, Jakarta, Pangandaran, Bandung, Sukabumi, Kudus, Mojokerto dan Mataram.
Adapun pelaku peledakan sendiri berasal dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dimana salah satu tokoh yang terlibat adalah Zoefri Yoes bin Yunus, seorang alumnus Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki.
Tragedi Bom Bali 2002.
 
bom bali
Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Abu Bakar Ba’asyir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian. Tercatat 202 orang meninggal dunia dalam peristiwa ini, dimana korban terbanyak adalah Warga Negara Australia.
Adapun tiga orang pelaku utama yakni Amrozi, Imam Samudera dan Ali Imron merupakan didikan daripada Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Bakar Ba’asyir. Mereka bertiga juga memperoleh doktrin sesat dari pimpinan Al Qaidah Usamah bin Ladin. Disamping ketiga nama tersebut, muncul pula nama Dulmaltin, DR. Azahari dan Noordin M.Top. Disinilah sepak terjang mereka dimulai.
Tragedi Bom Hotel JW. Marriot 2003.
Bom Jakarta 2003 (disebut juga Bom JW Marriott 2003) adalah peristiwa ledakan bom di hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Indonesia pada pukul 12.45 dan 12.55 WIB tanggal Selasa, 5 Agustus 2003. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang.
Peledakan Bom Kedubes Australia 2004.
Pengeboman Kedubes Australia 2004 atau yang biasanya disebut Bom Kuningan terjadi pada tanggal 9 September 2004 di Jakarta. Ini merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia yang terjadi di Indonesia setelah Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriott 2003.
Sebuah bom mobil meledak di depan Kedutaan Besar Australia pada pukul 10.30 WIB di kawasan Kuningan, Jakarta. Jumlah korban jiwa tidak begitu jelas – pihak Indonesia berhasil mengidentifikasi 9 orang namun pihak Australia menyebut angka 11. Di antara korban yang meninggal adalah satpam-satpam Kedubes, pemohon visa, staf Kedubes serta warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat bom tersebut meledak. Tidak ada warga Australia yang meninggal dalam kejadian ini. Beberapa bangunan-bangunan di sekitar tempat kejadian juga mengalami kerusakan.
Pihak Kepolisian Indonesia menduga bahwa kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang berada di balik peristiwa ini. Motif pengeboman masih belum jelas, namun ada kemungkinan berhubungan dengan Pemilihan Presiden yang akan datang. Pengeboman itu dipercayai dilakukan oleh seorang pengebom berani mati bernama Heri Kurniawan alias Heri Golun dengan menggunakan van mini jenis Daihatsu bewarna hijau. Heri berhasil diidentifikasi melalui tes DNA.
Pada 5 November 2004, polisi menangkap empat orang yang dianggap sebagai pelaku dalam peristiwa ini, yaitu Rois, Ahmad Hasan, Apuy, dan Sogir alias Abdul Fatah di Kampung Kaum, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  13 September 2005, Rois dijatuhi vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sehari kemudian, tersangka lainnya, Hasan, juga dijatuhi vonis hukuman mati.
Bom Bali II tahun 2005.
Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober 2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.
Menurut Kepala Desk Antiteror Kantor Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Inspektur Jenderal (Purn.) Ansyaad Mbai, bukti awal menandakan bahwa serangan ini dilakukan oleh paling tidak tiga pengebom bunuh diri dalam model yang mirip dengan pengeboman tahun 2002. Serpihan ransel dan badan yang hancur berlebihan dianggap sebagai bukti pengeboman bunuh diri. Namun ada juga kemungkinan ransel-ransel tersebut disembunyikan di dalam restoran sebelum diledakkan.
Serangan ini “menyandang ciri-ciri khas” serangan jaringan teroris Jemaah Islamiyah, sebuah organisasi yang berhubungan dengan Al-Qaeda, yang telah melaksanakan pengeboman di hotel Marriott, Jakarta pada tahun 2003, Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004, Bom Bali 2002, dan Pengeboman Jakarta 2009. Kelompok teroris Islamis memiliki ciri khas melaksanakan serangan secara beruntun dan pada waktu yang bertepatan seperti pada 11 September 2001.
Pada 10 November 2005, Polri menyebutkan nama dua orang yang telah diidentifikasi sebagai para pelaku:
Muhammad Salik Firdaus, dari Cikijing, Majalengka, Jawa Barat – pelaku peledakan di Kafé Nyoman Misno alias Wisnu (30), dari Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah – pelaku peledakan di Kafé Menega.
Kemudian pada 19 November 2005, seorang lagi pelaku bernama Ayib Hidayat (25), dari Kampung Pamarikan, Ciamis, Jawa Barat diidentifikasikan.
Bom Mega Kuningan 2009.
 
marriot 2009
Bom Jakarta 2009 (disebut juga Bom Mega Kuningan 2009) adalah peristiwa ledakan bom di hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Indonesia pada pukul 07.47 dan 07.57 hari Jumat, 17 Juli 2009. Peristiwa bom bunuh diri tersebut menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lainnya, baik warga Indonesia maupun warga asing. Selain dua bom rakitan berdaya ledak rendah yang meledak tersebut, sebuah bom serupa yang tidak meledak ditemukan di kamar 1808 Hotel JW Marriott yang ditempati sejak dua hari sebelumnya oleh tamu hotel yang diduga sebagai pelaku pengeboman.
Peristiwa ini terjadi sembilan hari sesudah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia serta dua hari sebelum rencana kedatangan tim sepak bola Manchester United di Hotel Ritz-Carlton yang akan melakukan pertandingan dengan tim Indonesian All Star pada 20 Juli 2009. Sementara itu, tim Indonesian All Star yang sedang menginap di Hotel JW Marriot selamat dari bom. Hotel JW Mariott pernah menjadi target bom bunuh diri pada 5 Agustus 2003 yang memakan korban tewas 12 orang dan 150 orang luka-luka.
Setelah melakukan operasi penangkapan pada 7 dan 8 Agustus 2009, Polri mengumumkan identitas kedua pelaku bom bunuh diri, yaitu Dani Dwi Permana asal Bogor dan Nana Ikhwan Maulana asal Pandeglang. Polisi mengaku mendeteksi ada 11 orang yang diduga terlibat dalam pengeboman tersebut, termasuk Noordin M Top sebagai otak pelaku utama dan Ibrohim sebagai orang dalam di Hotel Ritz-Carlton yang menyelundupkan bom ke dalam hotel. Polisi berhasil menangkap atau menembak mati sejumlah tersangka pelaku pengeboman lainnya, walaupun masih ada beberapa aktor yang buron.
Patah Tumbuh Hilang Berganti.
Sekalipun aktor-aktor utama dari gerakan neo-Khawarij tersebut telah berhasil dilumpuhkan, baik tertembak mati maupun dihukum mati oleh pengadilan, kelompok-kelompok seperti ini akan senantiasa ada. Mereka menganut pola Patah Tumbuh Hilang Berganti. Mereka sudah memiliki kader yang siap setiap saat untuk menggantikan seniornya.
Siapa sangka, setelah Kartosuwirjo dkk dilumpuhkan muncul Wendy Muhammad Zain pada tahun 1981. Setelah itu muncul pula Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Hingga setelah itu hadir Imam Samudera, DR.Azahari, Dulmaltin dan Noordin M.Top. Wallohu Musta’an.
Referensi: