>

algeir
Diantara sekte-sekte Khawarij ini ada sebuah kelompok yang dikenal dengan nama Al Qa’adiyyah. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari garis ketaatan kepada penguasa (muslim) dengan menggunakan lisan seraya menyembunyikan upaya pemberontakan bersenjata, namun mereka memprovokasi umat (untuk menentang) terhadap penguasanya.
Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar rohimamullohu berkata,
“Kelompok Al Qa’d adalah salah satu kelompok Al Khawarij yang mereka dahulu tidak pernah terlihat melakukan pemberontakan dengan senjata. Namun mereka selalu berupaya menentang para penguasa yang zhalim atau penguasa yang kejam semaksimal kemampuan mereka, dan mengajak (umat) kepada paham mereka. Bersama dengan itu mereka selalu mempropagandakan penentangan.”
(Tahdzibut Tahdzib, VIII/14).
Beliau rohimahullohu juga berkata,
“Al Qa’adiyyah adalah orang-orang yang mempropagandakan pemberontakan terhadap penguasa, namun mereka tidak melakukannya secara langsung.”
(Hadyus Sari Muqaddimah Fathil Baari, hal. 459).

 Sekte Al Qa’adiyyah ini adalah kelompok yang selalu memprovokasi umat serta menanamkan di hati umat kebencian terhadap penguasa, serta mengeluarkan fatwa-fatwa yang berisi penghalalan sesuatu yang telah diharamkan oleh Alloh dengan mengatasnamakan hal tersebut sebagai upaya pengubahan kemungkaran. Sekte ini adalah sekte kelompok Khawarij yang paling jahat.
Telah diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud rohimahullohu dalam kitab beliau yang berjudul Masa’il Al-Imam Ahmad rohimahullohu (hal. 271) dari seorang ulama besar yang bernama Abdullah bin Muhammad Adh-Dha’if rohimahullohu [1] bahwa dia berkata:
“Kelompok Qa’adul Khawarij adalah kelompok Khawarij yang paling jahat.” [2]
Al ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata:
“Bahkan anehnya kritikan tersebut telah ditujukan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam ketika dikatakan kepada beliau, ‘berbuat adillah, sesungguhnya pembagian ini bukanlah pembagian yang diinginkan dengannya wajah Alloh!’ Ini semua sebagai dalil terbesar bahwa Al Khuruj (pemberontakan) terhadap seorang penguasa bisa jadi dengan mengangkat senjata, dan bisa pula dengan statement-statement dan ucapan-ucapan. Maksudnya adalah dalam hadits di atas, tidaklah orang itu mengangkat senjata terhadap Rosululloh namun hanya sebatas melakukan pengingkaran kepada beliau (dengan lisan).
Kita semua tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa sudah merupakan keharusan pemberontakan dengan mengangkat senjata tidak mungkin terjadi kecuali telah didahului oleh adanya upaya pemberontakan melalui lisan dan ucapan. Karena kaum Muslimin tidak mungkin akan mengangkat senjatanya untuk memerangi penguasa tanpa adanya suatu perkara yang memprovokasi mereka. Maka sudah dipastikan bahwa adanya suatu perkara yang membakar emosi mereka yaitu dalam bentuk statement-statement. Sehingga tindakan pemberontakan terhadap penguasa melalui ucapan-ucapan adalah tindakan pemberontakan yang hakiki, sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan sebagaimana pula telah dibuktikan oleh realita” –sekian dari Asy Syaikh Al Utsaimin, dinukilkan dari kitab Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir [3].
Perlu ditambahkan bahwa kaum Khawarij tersebut, tidaklah mereka melakukan pemberontakan dengan senjata terhadap penguasa kecuali setelah melalui tahapan pengkafiran terlebih dahulu terhadap penguasa tersebut dan orang-orang pemerintahannya, serta semua pihak yang bekerjasama dengan mereka. Hal itu disebabkan Khawarij tersebut melakukan tindakan pengkafiran dengan sebab dosa besar sebelum mereka melakukan upaya pemberontakan dan pembunuhan.
Allohu Musta’an
(Disarikan dari Buku “Mengidentifikasi Neo-Khawarij sebagai Sejelek-jelek Mayat di Kolong Langit” karya Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Rekomendasi Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan hafizahullohu. Diterjemahkan dan dijelaskan oleh Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu. Penerbit Qaulan Sadida – Malang). Judul Aslinya “Sekte Al Qa’adiyyah adalah Sekte Terjahat dari Sekte-Sekte Khawarij”
____________________
[1]. Al Hafizh ‘Abdul Ghani bin Sa’id rohimahullohu berkata, “Dua orang perawi yang terhormat namun menyandang gelar yang jelek, pertama Mu’awiyah bin ‘Abdil Karim. Kedua, ‘Abdullah bin Muhammad bergelar Adh Dha’if (yang lemah), karena memang tubuhnya yang lemah, bukan disebabkan riwayat haditsnya yang lemah!” Sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Al Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamal (XVI/99) karya beliau. Al Imam An Nasa’i rohimahullohu berkata, “Beliau adalah seorang syaikh yang sholih lagi tsiqoh, dha’if itu adalah gelarnya karena ia terlalu banyak beribadah hingga tubuhnya lemah.
[2]. Kelompok yang mirip dengan sekte Al Qa’adiyyah pada masa kita ini adalah kelompok sempalan Hizbut Tahrir. Kelompok ini dengan tegas menentang upaya perlawanan bersenjata terhadap penguasa, namun dibalik itu mereka selalu berupaya memprovokasi dengan berkedok slogan “amar ma’ruf nahi munkar”.
[3]. Kitab Fatawa Al ‘Ulama Al Akabir, adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Al-Jazairi, yang judul selengkapnya adalah “Fatawa ‘Ulama’il Akabir fima Uhdira min dima’in fil Jaza’ir (Fatwa-Fatwa Ulama Besar tentang Darah-Darah yang Ditumpahkan di Negeri Aljazair). Kitab ini menjelaskan dan membantah syubhat-syubhat kaum Khawarij di negeri Aljazair yang mengatasnamakan tindakan mereka dengan nama Ahlus Sunnah dan telah banyak berdusta dan memanipulasi fatwa-fatwa para ulama, sehingga Asy Syaikh Abdul Malik, beliau adalah seorang ulama yang berkebangsaan Aljazair dan banyak mengerti tentang realita sebenarnya yang terjadi di negerinya, membeberkan kedustaan-kedustaan tersebut dengan disertai bantahan-bantahan yang sangat ilmiah. Semoga buku yang bermanfaat ini bisa segera diterjemahkan agar kaum Muslimin di Indonesia lebih bisa mengambil pelajaran.