>

somalia
Ketahuilah bahwa kaum Khawarij muncul di tengah-tengah muslimin melalui pintu (slogan) amar ma’ruf nahi munkar. Mereka menyangka bahwa diri-diri mereka adalah orang-orang yang memiliki kecemburuan terhadap agama ini, dan bahwa mereka adalah pelindung-pelindung agama, serta berambisi untuk melindungi dan membelanya.
Jika mereka telah menampakkan dirinya melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan kaum muslimin melihat hal itu, lalu apa kiranya reaksi/tanggapan mayoritas umat? Secara zhahir tentunya umat akan membenarkan mereka dan mendukung aktivitas mereka, bahkan akan membelanya. Karena yang tampak dari aktivitas kaum Khawarij ini seolah-olah merupakan upaya pembelaan terhadap agama, sementara fitrah (manusia) yang lurus tentunya akan ikut mengajak kepada perbuatan tersebut.
Jika perkaranya demikian, maka tentunya setiap pribadi muslim yang memiliki rasa cemburu (terhadap agamanya) akan memposisikan dirinya bersama setiap pihak yang mendasari aktivitasnya dengan slogan amar ma’ruf nahi munkar dalam rangka membela agama yang lurus ini.

Pola Pergaulan di Tengah-Tengah Kaum Muslimin.
Setelah melakukan penelitian dan upaya peninjauan terhadap kondisi mereka di masa ini dan masa yang lainnya, maka tanda-tanda Al Khawarij dapat diketahui sebagai berikut:
1. Adanya majelis-majelis rahasia.
Anda akan dapati mereka selalu menyembunyikan pembicaraan dan pertemuan-pertemuan mereka serta berupaya untuk menghindar dari pandangan manusia yang tidak sejalan dengan paham mereka. Majelis-majelis rahasia tersebut mereka adakan di tempat-tempat khusus mereka atau kadang-kadang di alam terbuka yang jauh dari keramaian manusia, bahkan kadang-kadang di tempat-tempat peristirahatan untuk menghindari adanya keraguan dan kecurigaan pihak lain terhadap mereka. Bisa juga di gua-gua dan yang semisalnya. Kemudian mereka menamakan majelis-majelis rahasia tersebut dengan majelis-majelis ilmiah.
Berkata seorang khalifah dari Dinasti Umawi yang terkenal dengan keadilannya, yaitu Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdul Aziz rohimahullohu:
“Jika anda telah melihat sekelompok orang yang secara khusus melakukan pembicaraan rahasia berkaitan dengan urusan umat, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka sedang meletakkan pondasi kesesatan.”
Maka kalau seandainya mereka duduk berkumpul dalam rangka untuk mencari ilmu dan faidah ilmiah, kenapa pihak yang tidak sepaham (tidak satu kelompok) dengan mereka tidak diizinkan untuk duduk bersama mereka serta tidak diizinkan masuk ke tempat-tempat pertemuan mereka?!! Ketahuilah sesungguhnya tempat ilmu itu adalah masjid-masjid.
2. Kaum Khawarij adalah orang yang semangat dalam ibadah. Mereka itu bukanlah para pelaku kemaksiatan atau para preman.
3. Kaum Khawarij adalah orang-orang yang muda umurnya serta dungu cara berpikirnya, serta mereka sama sekali bukan dari kalangan ulama.
4. Al Khawarij selalu berupaya menyembunyikan berbagai operasi jaringan mereka dari keumuman manusia dan tidak mau menampakkan identitas (jati diri) mereka secara terang-terangan.
5. Al Khawarij sering meletakkan nash-nash (dalil Al Qur’an dan As Sunnah)  bukan pada tempatnya.
6. Al Khawarij tidaklah pernah menimba ilmu dari para ‘ulama (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah), dan sesungguhnya mereka hanya bersandarkan pada pemahaman mereka yang pendek serta doktrin-doktrin para pemimpin mereka yang jahil.
7. Al Khawarij selalu berupaya untuk berdalil dengan dalil-dalil yang mutasyabih (belum jelas dan masih samar) baik dari Al Qur’an maupun Al Hadits, serta meninggalkan dalil-dalil yang muhkam (jelas dan pasti) sebagaimana hal itu memang kebiasaan para pengusung kesesatan.
Wallohu A’lam bi Showab.

(Disarikan dari Buku “Mengidentifikasi Neo-Khawarij sebagai Sejelek-jelek Mayat di Kolong Langit” karya Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Rekomendasi Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan hafizahullohu. Diterjemahkan dan dijelaskan oleh Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu. Penerbit Qaulan Sadida – Malang).