>

Riwayat-riwayat berikut ini menunjukkan bahwa para Salafus Sholih sangat sayang terhadap waktu yang ia miliki dari umurnya. Yahya bin Hubairah menjelaskan tentang makna waktu:
“Waktu lebih berharga daripada apa yang Anda pelihara. Saya rasa ia adalah sesuatu yang paling cepat hilang darimu.”
(Thabaqhat Al-Hanabilah, I/128).
Diantara contoh yang kami ketengahkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh as-Sam’ani [1] dalam Adab al-Imla’ wa al-Istimla’ dari beberapa ahli hadits. Contoh yang ia sebutkan dalam buku itu menunjukkan bahwa tak ada sedikitpun dari waktu mereka, kecuali digunakan untuk mencari ilmu atau berdzikir; baik dengan beristighfar, bertasbih maupun tahlil. Dahulu majelis-majelis ilmu dihadiri oleh banyak orang. Disebutkan, majelis ilmu Muhammad bin Isma’il dihadiri oleh 20 ribu orang [2].

Yang dapat kita sajikan sebagai pelajaran dari riwayat ini,adalah perkataan as-Sam’ani yang menyebutkan bahwa apabila seorang perawi hadits berkata, “Telah memberitahukan kepada kami Waki’,” kemudian orang-orang mendengarnya menuliskan kalimat itu, maka ia tidak menyia-nyiakan waktunya. Ia berdzikir pada saat itu, membaca istighfar, bertasbih kepada Alloh hingga ia meneruskan perkataan berikutnya.
Perhatikanlah detik-detik waktu Anda yang enggan disia-siakan. Perhatikanlah bagaimana hari-hari dan waktu-waktu yang kita miliki tanpa terasa berlalu begitu saja. Sebagian ulama berkata tentang Abdullah bin Imam Ahmad, “Demi Alloh! Saya tidak melihatnya kecuali tersenyum, membaca dan menelaah.”
Sebagian mereka ada yang bercerita tentang pribadi al-Khathib al-Baghdadi, “Saya tidak melihat al-Khathib kecuali di tangannya ada kitab yang ia telaah.”
Mereka ini adalah orang-orang yang waktunya tidak terbuang sia-sia. Adapun kita –sebenarnya- tidak beda dengan mereka. Seorang penyair berkata:
Hari-hari kita akan terus-menerus berlalu
Padahal semua orang telah tahu
bahwa kita menuju kematian
Masa-masa muda telah berlalu
tak mungkin akan kembali
Dan tidak pula uban yang putih ini akan menghilang
Wallohu Musta’an.
Disarikan dari buku “Bimbingan Menuntut Ilmu: Tahapan, Adap, Motivasi, Hambatan, Solusi.” karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as Sadhan. Penerbit Pustaka At Tazkia – Jakarta.
_____________________
[1]. Adab al-Imla’ wa al-Istimla’, as-Sam’ani (hal. I/74)
[2]. Ibid  (I/17)