>

Al Hasan Al Bashri berkata,
“Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah hari-hari yang telah Anda lalui. Setiap berlalu satu hari maka hilanglah dirimu.”
(Hilyah al-Auliya’, II/148).
Ia juga berkata:
“Tak ada satu hari pun pada saat fajar terbit kecuali ia berseru, ‘Wahai anak Adam! Saya adalah makhluk yang baru dan Anda menyaksikan apa yang Anda amalkan. Maka gunakanlah dirimu ini untuk mencari bekalmu. Karena apabila saya telah berlalu, saya tidak akan kembali lagi hingga Hari Kiamat.’”
(Hilyah al-Auliya’, II/147).
Ketahuilah! Sesungguhnya waktu itu dibagi menjadi beberapa bagian. Al Khalil bin Ahmad berkata:
“Waktu itu ada tiga bagian: waktu yang telah berlalu darimu dan takkan kembali, waktu yang sedang engkau alami maka lihatlah bagaimana ia akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak akan mendapatkannya.”
(Thabaqat al-Hanabilah, I/288)
Secara sunatulloh, kita mengetahui bahwa waktu yang kita alami ini tidak akan kembali, walau bagaimanapun. Walaupun Anda mengumpulkan manusia, jin dan malaikat untuk saling bekerja sama, mereka tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu dari umur kita ini. Waktu yang kita sia-siakan, jika kita bandingkan dengan waktu yang kita gunakan, niscaya kita akan melihat bahwa diri kita ini sangat lalai.

 Apabila salah seorang diantara kita mau menbaca tentang kesungguhan para ulama salaf, dan seberapa besar kemauan mereka untuk menggunakan waktu mereka, maka ia tidak dapat menggambarkan keadaan dirinya yang sangat lalai.
Adz Dzahabi menjelaskan perjalanan hidup al-Wahhab bin al-Amin dengan mengatakan bahwa ia sangat menjaga waktunya. Tidak satu jam dari waktunya berlalu kecuali ia gunakan untuk membaca, berdzikir, sholat tahajjud dan menghafal Al Qur’an.
Muhammad bin Abdul Baqi berkata:
“Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu dari umurku untuk bermain-main dan berbuat yang sia-sia.”
(Siyar A’lam an Nubala’, XX/26)
Ada riwayat yang mengagumkan, yang menunjukkan kesungguhan mereka dalam menggunakan waktu. Yaitu riwayat yang disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an Nubala tentang Dawud bin Hindun. Dawud berkata:
“Dahulu sewaktu masih kecil, aku berkeliling pasar. Ketika pulang, aku usahakan diriku untuk berdzikir kepada Alloh hingga pada tempat tertentu. Jika aku telah sampai pada tempat itu, aku usahakan diriku untuk berdzikir kepada Alloh hingga pada tempat selanjutnya….hingga di rumah.”
(Siyar A’lam An Nubala’, XX/378)
Tujuannya adalah menggunakan waktu dan umurnya.
Masing-masing kita, kecuali yang dirahmati Alloh, jika memperhatikan waktu yang telah ia sia-siakan dan waktu yang tak dapat ia manfaatkan kembali, kemudian memperhatikan waktu yang ia gunakan niscaya ia akan mengetahui bahwa di antara keduanya tidak seimbang.
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa waktu sangat berharga. Kalau boleh kami mengumpamakannya dengan roda kerekan. Sudahkan anda melihat kerekan yang diletakkan di atas bibir sumur? Apabila pada kerekan tersebut dipasang tali yang panjang, kemudian ada orang yang memegang ujung tali tersebut lalu ia menariknya dan kerekan ikut berputar seiring dengan ditariknya tali. Maka tali yang ditarik akan terus bertambah panjang, sedang yang digulung pada kerekan itu akan terus berkurang. Itulah umur manusia.
Ada yang tidak mengetahui berapa panjang tali yang digulung pada kerekan. Anda tidak mengetahui ajal Anda! Tali yang ditarik tadi adalah umur yang anda miliki dan hari-hari yang terus menerus datang dan pergi. Walaupun anda mengumpulkan jin dan manusia untuk saling bekerja sama, niscaya mereka tidak akan dapat mengembalikannya walaupun sesaat, apalagi satu jam.
Karena itu, kita harus meninggalkan perbuatan menunda-nunda ini sejauh-jauhnya. Kita harus bersungguh-sungguh dan jangan sampai salah seorang di antara kita berputus asa untuk mengamalkan kebaikan dengan berbagai bentuknya.
Kita sering mendengarkan tentang orang-orang yang mengeluhkan sedikitnya bacaan mereka, orang-orang yang mengeluhkan sedikitnya hafalan mereka dan orang-orang yang mengeluhkan tidak bisanya mereka mengatur waktu.
Kita hidup dalam masyarakat yang sama walaupun tempat kita saling berjauhan. Hendaknya masing-masing dari kita memperhatikan dirinya dan sebagian saudara-saudara kita yang sangat menyepelekan beberapa permasalahan (yang membuat kita ikut lalai).
Wallohu A’lam bi Showab.
Disarikan dari buku “Bimbingan Menuntut Ilmu: Tahapan, Adap, Motivasi, Hambatan, Solusi.” karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as Sadhan. Penerbit Pustaka At Tazkia – Jakarta.