>

Orang yang sibuk dengan perkara yang tak begitu penting, dan orang yang apabila membaca satu jam saja sudah merasa puas, maka ia akan menggunakan banyak waktu luangnya untuk bersantai-santai saja. Ada yang mengatakan bahwa bersantai-santai itu tidak perlu. Bukan begitu. Santai itu perlu, tapi harus diukur. Sebagian orang, apabila  membaca satu jam sudah merasa puas, atau apabila sudah hafal satu atau dua ayat, satu atau dua hadits dalam satu hari, ia sudah merasa cukup. Ia beralasan, khawatir akan memberatkan diri. Benar manusia itu memang berbeda-beda. Tapi jika anda memiliki kemampuan, janganlah anda menghalangi diri anda untuk melakukan sesuatu dan memanfaatkan waktu. Sesungguhnya umur kita sangat pendek dan ilmu itu sangat luas. 
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu al Qayyim dan ulama lainnya, di antara bisikan syaithan apabila seseorang merasa puas dengan mendapatkan sedikit pengetahuan dari apa yang ia baca. Syaithan masuk kepadanya melalui sebuah pintu masuk dengan berkata, “Kamu lebih baik daripada orang lain. Karenanya, bersantai-santailah.” Akibatnya waktu yang ia gunakan untuk santai lebih banyak daripada waktu yang ia manfaatkan. 
Anda telah membaca sejumlah riwayat tentang kesungguhan Salaf Ash Shalih (generasi terdahulu yang baik) untuk tidak menyia-nyiakan waktu mereka, walaupun hanya sesaat. Tapi ketika melihat perpustakaan, sebagian kita merasa heran karena melihat buku yang amat banyak tetapi pemiliknya enggan membaca. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu mempunyai perkataan yang amat indah ketika seseorang bertanya kepadanya tentang buku apa yang paling penting untuk dibaca oleh seorang penuntut ilmu, buku dan kitab tafsir apa yang sebaiknya ia mulai baca. Diantara penjelasan Syaikhul Islam ini ada perkataan yang perlu kita hayati dan camkan. Sebab, sebagian kita ada yang hanya suka membeli buku dan mengumpulkannya. Bahkan ia banyak mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan cetakan terbaru yang telah diteliti (ditahqiq) dan dijilid rapi. 

Syaikhul Islam berkata:
“Umat ini telah menguasai berbagai bidang ilmu dengan baik. Orang yang hatinya diberi cahaya oleh Alloh maka ia akan diberi petunjuk dengan apa yang telah ia kuasai dari ilmu tersebut. Dan orang yang dibutakan oleh Alloh, tidaklah buku-buku yang ia miliki, kecuali menjadikan dirimya semakin bingung dan tersesat.”
(Majmu’ah ar-Rasail Al Kubra, I/239)
Ketika menceritakan biografi Utsman bin Sa’id ad-Darimi, Imam Adz Dzahabi menyebutkan:
“Sesungguhnya ilmu bukanlah banyaknya riwayat. Tapi ilmu adalah cahaya yang dipancarkan oleh Alloh ke dalam hati. Dan syarat mendapatkannya ialah dengan ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi) dan meninggalkan hawa nafsu serta bid’ah.”
(Siyar A’lam An Nubala’, XIII/323)
Kami menyebutkan kedua riwayat ini karena salah seorang dari kita jika memperhatikan buku-buku yang dimilikinya maka ia akan mengetahui bahwa Alloh akan meminta pertanggung jawaban atas buku-buku tersebut. Ia akan mencelakakan dirinya jika menyia-nyiakannya. Jika kita mau mengatur dan menjaga waktu dari berbagai kesibukan agar selalu bermanfaat lalu mengatur waktu dari berbagai kesibukan agar selalu bermanfaat lalu mengatur waktu untuk membaca dan menghafal, niscaya kita akan mendapatkan kelezatan dan manisnya ilmu. Kita akan merasa rindu untuk memperbanyak membaca dan membahas. 
Ibnu Abi Hatim berkata: 
“Aku mendengar al-Muzani berkata, ‘Pernah ditanyakan kepada Imam asy-Syafi’i, “Bagaimana kecintaan anda terhadap ilmu?” 
Ia menjawab, “Aku mendengar satu huruf yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku ingin seluruh anggota tubuhku memiliki pendengaran yang dapat digunakan (untuk mendengarnya) sebagaimana telinga ini menggunakannya.”
Ia ditanya lagi, “Bagaimana kesungguhan anda terhadap ilmu?” Ia menjawab, “Ibarat seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.”
(Adab Asy Syafi’i wa Manaqibuhu, ar-Razi, hlm. 22)