>

Salah satu virus yang kerap menjangkiti para penuntut ilmu adalah dengki, apa sajakah itu? Berikut adalah penjelasan dari Asy Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As Sadhan hafizahullohu tentang virus-virus tersebut:
1. Senang dengan kesalahan temannya.

Kesalahan teman itu lebih besar daripada kesalahan yang lainnya. Karena teman itulah yang membuat dadanya sesak. Dialah yang menyainginya di masyarakat dan dialah yang mengotori ketenarannya. Setiap kali temannya berbuat salah, ia bertambah senang dan gembira, karena ia menyangka bahwa kesalahan temannya adalah kemuliaan baginya. Tidak ada yang selamat dari tanda ini kecuali sedikit. Karena ia adalah urusan hati yang hanya Alloh yang mengetahuinya dan orang yang bersangkutan. Jika sifat ini ada pada salah seorang dari kita, maka bersegeralah menghilangkannya dan bertaubatlah.

2. Senang dengan Ketidakhadiran Temannya.

Anda melihat dua orang teman berkumpul dan berbagi cerita. Masing-masing memiliki kelebihan dalam ilmu. Jika salah seorang dari keduanya tidak menghadiri majelis, sehingga ia sendirian di majelis itu, ia akan menguasai sebagian temannya lalu merasa senang dengan ketidakhadiran temannya itu. Karena dengan ketidakhadirannya ia menyangka derajatnya akan tinggi daripada temannya itu dan mempunyai kedudukan lebih.

3. Senang dan Merasa Puas jika Temannya Dicela.

Bahkan ia tidak berusaha mencegah orang yang ghibah atau orang yang mencelanya, sekalipun hal ini tidak menguntungkannya. Tidak diragukan lagi, ini adalah perbuatan haram. Karena menggunjing seorang Muslim pada umumnya tidak boleh, terutama bagi penuntut ilmu. Karena seorang penuntut ilmu itu bermanfaat bagi orang lain.

4. Menjelekkan Temannya Apabila Ia Ditanya Tentangnya.

Kadang datang kepada penuntut ilmu yang baru belajar, seorang yang bertanya kepadanya tentang seseorang, karena suatu masalah yang berkaitan dengannya. Dalam hal ini, orang yang hasad akan mendapatkan kesempatan untuk menjelekkan seseorang atau merendahkan kedudukannya dan mengejeknya. Ini diharamkan.

5. Hatinya terasa sedikit Sakit dan Dadanya terasa Sempit, jika ada Pertanyaan dilontarkan Kepada Orang Lain, atau Temannya ditanya Padahal Ia Ada.

Terkadang dua atau tiga teman berkumpul dalam satu majelis. Lalu salah satu dari mereka diminta untuk berbicara atau ditanya tentang suatu permasalahan. Orang yang hasad akan merasa bahwa ia ditimpa sesuatu yang sangat menyakitkan dalam dirinya. Ia berpura-pura melakukan sesuatu untuk menampakkan ketidakpeduliannya. Karena pertanyaan yang diarahkan kepada temannya, menurutnya adalah musibah yang paling besar yang menimpanya.

Seandainya dia berpikir bahwa hal itu adalah keutamaan Alloh yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan pertanyaan yang diarahkan kepada temannya tidak menunjukkan bahwa temannya tidak lebih utama daripadanya secara mutlaq, nisvcaya hal ini akan terasa ringan baginya.

6. Tidak Menghargai Manfaat atau Ilmu yang Dimiliki Temannya.

Kadang-kadang orang yang dalam dirinya ada sifat hasad, membahas suatu permasalahan atau mencabuku dan memberi jawaban atas suatu pertanyaan yang sulit. Ia membolak-balik lembaran-lembaran buku dan membuka berjilid-jilid kitab, namun dia tidak mendapatkan jawabannya. Kemudian temannya menemukannya. Apabila ia mendengar bahwa temannya mengetahui jawabannya, ia akan meremehkan usaha temannya itu. Tetapi jika orang yang mengetahui jawabannya itu adalah orang lain, ia akan mendo’akannya, memujinya dan mengingat-ingatnya secara terus-menerus.

Adapun jika manfaat itu datang dari temannya itu, ia sengaja menyembunyikan kekagumannya. Ia tidak menampakkan besarnya manfaat yang diperoleh temannya tersebut. Hal ini karena ia menganggap bahwa menampakkan kemahsyuran temannya akan melemahkan kedudukannya dan merendahkan kepribadiannya.

7. Mencoba Menyalahkan Pembicaraan Temannya dan Mengkritiknya apabila Temannya Menjawab.

 Sebagian orang berkumpul dalam suatu majelis, dan disebutkan sebuah pertanyaan, lalu salah seorang dari temannya menjawab. Orang yang ada dalam hatinya penyakit hasad, akan mencari-cari dan membuat-buat kesalahan dalam jawaban temannya itu, atau berusaha membelokkan perkataan temannya itu, sehingga membuatnya terjerumus ke dalam sebuah kesalahan. Ini adalah sebuah penyakit. 

8. Tidak Menisbatkan Keutamaan dan Pelajaran yang Ia dapatkan Kepada yang Menunjukkannya.

Terkadang seorang penuntut ilmu membahas suatu masalah. Ia merasa lelah dalam membahas dan menelitinya. Temannya mengetahui bahwa ia sedang membahas masalah tersebut. Lalu ia menunjukkan tempatnya dalam kitab dan halaman tertentu. Apabila pada dirinya ada rasa hasad, ketika menyebutkan jawaban tersebut, ia berusaha untuk tidak menisbatkan keutamaan yang ia peroleh itu kepada temannya dan tidak akan berterima kasih kepadanya. Bahkan ia mengira bahwa hal itu berkat kesungguhan dan keutamaannya semata. Ia merasa temannya tidak ikut serta dalam mencarinya. Ini merupakan tanda hilangnya berkah ilmu.

(Diambil dari: Bimbingan Menuntut Ilmu: Tahapan, Adab, Motivasi, Hambatan, Solusi. Pustaka At Tazkia – Jakarta).