>

oleh: Dr. Imad Ali Abdus Sami’ hafizahullohu. 
Berkata Ayatullah Al Uzhma sekaligus tokoh sentral mereka, Abdul Qasim Al Khu’iy dalam kitabnya Misbah Al Faqahah Fi Al Muamalat, 2/11 Dar Al Hadi Beirut:

“Tidak ada keraguan untuk mengkafirkan orang yang menyalahi imam, karena keingkaran mereka terhadap para imam, walaupun pengingkaran itu hanya terhadap salah seorang diantara mereka. Sebagaimana tidak ada keraguan mengkafirkan terhadap mereka yang memiliki keyakinan/aqidah menyimpang, seperti Jabariyah dan lain sebagainya. Wajib dihukumi sebagai kafir dan zindiq, hal itu sesuai dengan ahbar mutawatir yang secara jelas mengkafirkan orang yang mengingkari otoritas imam; karena yang demikian itu menunjukkan tidak adanya persaudaraan dan tidak adanya kewajiban melindungi antara kita dengan mereka.”

Berkata Syaikh Muhammad Hassan An Naifi, ia mengeluarkan pernyataan yang lantang mengenai permusuhan Syi’ah dengan Ahlus SUnnah, hal itu terdapat dalam ensiklopedi fiqih yang tersebar di kalangan kaum Syiah; yaitu kitab Jawahir Al Kalam Fi Syarai’ Al Islam, 22/62, yang berbunyi:

“Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengikat tali persaudaraan di antara kaum Mukminin, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya Orang Mukmin itu bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10)

Tetapi tidak dengan mereka, bagaimana mungkin kita bisa membayangkan adanya persaudaraan di antara kaum mukminin dan dua orang yang menyalahi otiritas imam, karena hadits-hadits yang mutawatir dan ayat-ayat yang begitu banyak mewajibkan kita untuk memerangi mereka dan berlepas diri dari mereka.”

Diambil dari buku “Pengkhianatan-Pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam.” Pustaka Al Kautsar Jakarta.