>

oleh: Asy Syaikh Hamd bin Nashir bin ‘Utsman Aali Mu’ammar rohimahullohu.
(Tahqiq: Asy Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Nashir Ali ‘Abdil Karim).
Do’a di dalam Al Qur’an mengandung dua makna:
  1. Do’a Ibadah, yaitu menyeru Alloh untuk merealisasikan perintah-Nya dalam Firman-Nya, “Berdo’alah kepada-Ku!! Niscaya Aku akan mengabulkan bagi kalian.” (QS. Al Mu’min: 60).
  2. Do’a permintaan, yaitu berdo’a kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat dan menolak madharat, terlepas dari perealisasian perintah. Telah ditafsirkan ayat tersebut dengan dua segi:

Pertama: Umum

Mencakup do’a dan selainnya, yaitu ibadah dan perealisasian perintah Alloh Ta’ala, maka makna firman –Nya, “Niscaya akan Ku-kabulkan buat kalian.” ialah niscaya akan Ku-berikan pahala bagi kalian. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman di ayat yang lain:
 “Dia mengabulkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih.” (QS. Asy Syuura: 26). 
Artinya: memberikan pahala kepada mereka, berdasarkan salah satu penafsiran.
Kedua: Khusus
Maka berarti, “Mintalah kepada-Ku, maka Aku akan memberikan bagi kalian.” Sebagaimana tersebut dalam shohihain dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Tiap malam Rabb kita turun ke langit dunia ketika sisa sepertiga malam akhir, lalu Dia berfirman: “Siapakah yang menyeru-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapakah yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikannya, siapakah yang beristighfar kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.””

(HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) [1].
Disini disebutkan pertama berdo’a, kedua meminta, lalu istighfar. Padahal orang yang beristighfar adalah orang yang meminta, sebagaimana orang yang meminta adalah orang yang berdo’a. Jadi, mengikutkan setelah do’a dengan permintaan kemudian istighfar, adalah mengikutkan yang khusus kepada yang umum.
Diambil dari buku “Membantah Para Penyembah Kubur” terbitan Pustaka Al Haura Yogyakarta
______________________________
[1]. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (2/149), Al Bukhari dalam Shohih-nya pada kitab At Tahajjud (3/29), kitab Do’a-do’a (11/128-129), dan Kitab Tauhid (13/464). Muslim dalam shahih-nya pada kitab sholat kaum musafir dan qoshor-nya (1/521-522) melalui beberapa jalur dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu. Adapun Muslim mengeluarkannya dari jalur Abi Ishaq dari Al-Agharr Abi Muslim dari Sa’id dan Abi Hurairah. Ringkasnya, hadits ini mutawatir.