>

oleh: Asy Syaikh Hamd bin Nashir bin ‘Utsman Aali Mu’ammar rohimahullohu
Ziarah kubur itu ada dua macam: Ziarah Syari’iyyah dan Ziarah Bid’iyyah Syirkiyyah. Ziarah syar’iyyah mempunyai 3 maksud:
  1. Mengingatkan kepada akhirat, mengambil nasihat dan mengambil pelajaran. 
  2. Berbuat baik kepada mayat agar ia tidak lama ditinggal sendiri dan seolah dilupakan, maka jika engkau menziarahinya, memberikan hadiah doa, dan bersedekah untuknya maka mayat akan merasa senang, sebagaimana kalau engkau menziarahi yang masih hidup dan memberikannya hadiah. Oleh karenanya, Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mensyari’atkan bagi orang yang berziarah untuk mendoakan penghuni kubur agar mendapatkan maghfirah dan rahmat, beliau tidak mensyari’atkan berdo’a kepada penghuni kubur dan berdoa melalui mayat, serta tidak pula sholat di dekat kubur. 
  3. Orang berziarah berbuat baik kepada dirinya sendiri dengan mengikuti As Sunnah dan mengikuti apa yang disyari’atkan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Sehingga dengannya dia telah berbuat baik kepada dirinya dan kepada yang diziarahinya. 
Adapun ziarah bid’iyyah syirkiyyah, maka sumbernya diambil dari peribadatan berhala. Yaitu menuju kubur orang sholih untuk melakukan sholat di dekatnya, berdoa di dekatnya, berdoa melaluinya, memohon hajat, memohon bantuan dan semacamnya dari bid’ah yang tidak disyari’atkan oleh beliau, tidak juga dilakukan oleh sahabat maupun tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. 
Kemudian ketahuilah bahwa ziarah yang benar adalah tidak melakukan perjalanan jauh untuknya, sedangkan jika harus menempuh perjalanan jauh maka itu ziarah bid’iyyah yang tidak diperintahkan oleh Rosululloh dan tidak dilakukan oleh para sahabat, bahkan Rosululloh telah melarangnya, sebagaimana tsabit di dalam hadits beliau:

“Tidaklah dilakukan perjalanan jauh kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku ini (Nabawi -red).””

(HR. Bukhari dan Muslim). 
Hadits ini disepakati oleh para imam dan dapat dijadikan pegangan dalam beramal. 
Diambi dari buku “Membantah Para Penyembah Kubur” penerbit Al Haura Yogyakarta.