>

oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizahullohu.

Al Imam Al Bukhari dan Muslim rohimahullohu dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, bahwa ia berkata: Saya tanyakan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, “Ya Rosululloh, sesungguhnya para dukun itu mengatakan sesuatu kepada kami, dan ternyata apa yang dikatakannya itu benar terjadi.” Beliau kemudian bersabda:
“Kata yang benar itu disambar oleh jin dan kemudian dibisikkan ke telinga pengikutnya. Tapi setiap satu kata yang benar itu dicampur dengan seratus kebohongan.”
(HR. Al Bukhari no. 5762, Muslim no. 2228).
Dalam riwayat lainnya yang dikemukakan oleh Al-Imam Muslim rohimahullohu, disebutkan bahwa ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha menceritakan: “Orang-orang bertanya kepada Rosululloh tentang kebenaran para dukun.” Beliau menjawab: “Tidak ada apa-apanya.” Mereka lantas berkata: “Mereka itu (dukun) terkadang mengatakan sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi.” Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab:
“Kalimat itu berasal dari kalangan jin yang disambar oleh salah seorang jin, lalu ia bisikkan ke dalam telinga pengikutnya seperti suara ayam betina, lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kebohongan.”

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan perkataannya, berarti itu telah kufur kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam.”
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 9541).
Ibnu Atsir rohimahullohu menjelaskan, “Yang dimaksud tukang ramal adalah ahli nujum atau orang pandai yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal hanya Alloh Ta’ala yang mengetahui perkara ghaib. Tukang ramal itu masuk dalam katagori dukun.”
Dalam shahih-nya, Al Imam Muslim rohimahullohu mengutip hadits dari Nafi’, dari Shafiyyah, dari beberapa istri Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda:
“Siapa yang mendatangi arraf (tukang ramal) lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”
Al-Imam An Nawawi rohimahullohu menjelaskan,
“Yang dimaksud dengan tidak diterima sholatnya adalah bahwa sholat yang dilakukannya itu tidak diberi pahala, sekalipun sholat yang dilakukannya itu sudah tentu tetap bisa menggugurkan kewajibannya sehingga tidak perlu dihitung kembali. Para ulama sepakat bahwa hal itu tidak berarti menuntut orang yang mendatangi tukang ramal untuk mengulangi sholatnya empat puluh hari. Wallohu A’lam.”
(Syarh Shahih Muslim, 7/336).
Bertolak dari dalil-dalil di atas, setidaknya ada dua bahaya yang mengancam orang-orang yang mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada dukun atau paranormal:
  1. Kekafiran, jika meyakini kebenaran dukun dan meyakini tukang ramal itu sebagai orang yang mengetahui hal ghaib.
  2. Mendekati kekufuran, jika membenarkan berita yang disampaikannya dari hal yang ghaib. Dengan alasan, dukun dan paranormal menyampaikan hal yang ghaib dari informasi jin yang mencuri-curi dengar berita langit.
Hanya kepada Alloh Ta’ala lah kita memohon perlindungan. Semoga Alloh tidak memperbanyak jumlah para pelayan setan (dukun), serta membongkar kejahatan mereka.
Wallohu Musta’an.
Diambil dari: Majalah Asy Syariah, No.52/V/1430H/2009