oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

Makna ayat ini dipertegas oleh dua hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alahii Wa Sallam, yang salah satunya bersifat lebih khusus, dan yang kedua bersifat lebih umum. Kedua hadits tersebut adalah:

“Dari Abi Najih Al ‘Irbadh bin Sariyah, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan nasihat kepada kami dengan sebuah nasihay yang menggetarkan hati dan meneteskan air mata. Maka kami berkata: “Wahai Rosululloh, seolah-olah ini adalah nasihat untuk orang yang akan berpisah. Maka berilah kami wasiat.” Maka Rosululloh berkata: “Aku mewasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Alloh, dan selalu mendengarkan dan taat (kepada penguasa), sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari negeri Habasyah (Ethiopia -red). Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku pasti akan mendapati perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para al Khulafaa-ur Raasyidiin yang telah mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama), karena sesungguhnya perkara yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat. [Dalam riwayat lain]: dan setiap kesesatan itu di neraka.”

(Riwayat Abu Dawud (4596, 4597), At Tirmidzi (2642), Ibnu Majah (3990), Ad Darimi (II/241), Ahmad (IV/102, II/332), Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah (II/108/2, 119/1), Al Laaikaa’i di Syarhus Sunnah (I/23/1), dan selainnya. Dishahihkan oleh Al Albani di dalam Ash Shahiihah no. 203, 204, 1492) [1]
Dalam hadits pertama ini, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menjadikan sunnah beliau dan Al Khulafaa’ur Raasyiduun sebagai referensi utama bagi umat ini di saat mereka menghadapi perselisihan. Dan sekaligus beliau memperingatkan mereka dari perkara yang diada-adakan dan tidak dikenal di masa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam hidup atau tidak dikenal oleh Al Khulafaa’ur Raasyiduun. Sehingga setiap ibadah, aqidah, ataupun manhaj yang tidak dikenal di masa Rosululloh ataupun Al Khulafaa’ur Raasyiduun adalah ibadah, aqidah, dan manhaj yang bid’ah.
Kemudian dalam hadits yang kedua, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan kriteria tersebut dengan sifat yang lebih umum. Maksudnya adalah tidak hanya terbatas pada Khulafaa’ur Raasyidiin tetapi meliputi para shahabat yang lainnya. Hadits tersebut adalah:

“Dan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rosululloh? Rosululloh menjawab: Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan kondisi para shahabatku pada hari ini.

(Riwayat Ath Thabraani di Ash Shaghiir I/256. Diriwayatkan oleh beberapa shahabat, antara lain: Abu Hurairah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Anas bin Malik, ‘Auf bin Malik, Ibnu Mas’ud, Abu Umamah, ‘Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash rodhiyallohu ‘anhu.) [2].
Dalam hadits tersebut dengan tegas Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menjadikan beliau serta para shahabatnya sebagai tolok ukur kebenaran dan sekaligus tolok ukur Golongan Yang Selamat (Al Firqatun Najiyah). Sehingga barangsiapa yang menginginkan keselamatan dari kesesatan di dunia dan berbagai macam bid’ah, baik bid’ah dalam perkara ibadah, aqidah ataupun manhaj (metode berpikir), maka hendaknya dia beribadah, beraqidah serta bermanhaj dengan ibadah, aqidah, dan manhaj Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan Para Shahabatnya.
Perlu diketahui bahwa barangsiapa yang enggan dan berpaling dari manhaj dan aqidah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya tersebut, maka dia tidak lagi tergolong sebagai Golongan Yang Selamat, bahkan Alloh Ta’ala akan membiarkan dia terus hanyut ke dalam kesesatan dan kebid’ahan, serta Alloh lemparkan dia ke dalam jurang neraka Jahannam sebagaimana dalam ayat ke-115 surat An Nisaa’ di atas. yaitu Alloh Ta’ala menyatakan:
نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang disukainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa’: 115).
Itulah dienul Islam yang telah lengkap dan sempurna. Semuanya telah jelas dan gamblang, tidak ada satupun yang tersamar atau tidak jelas. Tidaklah menyimpang darinya kecuali dia pasti binasa.
-bersambung ke bagian 3-
Diambil dari buku MEREKA ADALAH TERORIS. Penerbit Qoulan Sadida – Malang.
_________________________
[1]. Sedikit tambahan dari redaksi tentang periwayatan hadits.
[2]. Ibid.