oleh: Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizahullohu.

 

Upaya amar ma’ruf nahi munkar harus memenuhi beberapa kriteria penting, di antaranya adalah:
1. Penentuan bahwa perkara yang mungkar itu memang benar-benar mungkar secara ilmiah menurut ketentuan Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga apa yang dinilai oleh Al Qur’an dan As Sunnah sebagai perkara ma’ruf, maka itu adalah ma’ruf. Sebaliknya apa yang dinilai oleh Al Qur’an dan As Sunnah sebagai perkara mungkar, maka itu adalah mungkar. Bukan menurut kepentingan hawa nafsu atau perasaan orang per orang.
2. Siapakah pihak yang berhak menentukan dan menimbang bahwa suatu perkara itu mungkar atau tidak berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah? Maka yang berhak tidak lain adalah para ‘ulama yang berilmu dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta berpemahaman dengan pemahaman salafus sholih. Alloh Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang yang berilmu, yaitu para ‘ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43).

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

“Jika datang kepada mereka suatu berita tentang ketenteraman atau ketakutan (kekacauan) mereka segera menyiarkannya/menyebarkannya. Seandainya mereka mau menyerahkan (jawaban) perkara tersebut kepada Rosul dan Ulil Amri (para ‘ulama) di tengah-tengah mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan mengetahuinya dari mereka (yakni Rosul dan para ‘ulama). Kalaulah tidak karena karunia dan rahmat Alloh pada kamu, tentu kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu.”
(QS. An Nisaa’: 83).
Bukan pihak-pihak yang menamakan dirinya aktivis-aktivis pergerakan Islam, yang sama sekali tidak berpemikiran dengan pemikiran salafus sholih. Bahkan mayoritas mereka terpengaruh dengan pemikiran kelompok sesat khawarij, mu’tazilah, syi’ah dan lain sebagainya. Sejarah telah membuktikan bahwa mereka menilai perkara ma’ruf sebagai mungkar, dan perkara yang mungkar sebagai ma’ruf, yang mereka lakukan dengan mencomot ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian meletakkannya tidak pada tempatnya. Mereka adalah Ruwaibidhah, yaitu orang-orang dungu dan bodoh yang sok mau berbicara tentang urusan umat. Jika perkara ini dikembalikan kepada mereka maka tunggulah kehancurannya. Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kedatangan Hari Kiamat tersebut.”

3. Ibadah amar ma’ruf nahi munkar ini pun telah dibatasi oleh Alloh dan Rosul-Nya. Hal ini sesuai dengan batasan-batasan kemampuan hamba-hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan sifat Alloh yang Rahman dan Rahim terhadap hamba-hamba-Nya. Dan sesuai pula dengan Islam itu sendiri sebagai agama yang mudah dan tidak memberatkan pemeluknya. Alloh Ta’ala berfirman:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا
“Tidaklah Alloh membebani seorang jiwa pun kecuali dalam batas kemampuannya.” (QS. Al Baqarah:286).
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dia (Alloh) sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama ini suatu kesempitan (kesulitan).” (QS. Al Hajj: 78).
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam ketika menjelaskan kepada umatnya tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar juga membatasi perintahnya ini dengan kemampuan umatnya, dan agar umat ini tidak memaksakan diri di dalam melakukan upaya tersebut di luar batas kemampuannya. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang dibawakan oleh shahabat Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya dia berupaya merubahnya dengan menggunakan tangan (kekuatan)nya, kalau ternyata dia tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, kalau ternyata dia masih tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya. Dan yang seperti ini adalah selemah-lemah iman.”

(HR. Muslim no. 49).
4. Terkhusus upaya inkarul munkar terhadap waliyyul amri atau penguasa yang sedang berkuasa, maka hal ini memiliki ketentuan-ketentuan yang lebih khusus lagi. Yang telah ditentukan oleh Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya serta dibimbingkan oleh para ‘ulama yang bermanhaj dengan manhaj salafus sholih.
Diambil dari buku MEREKA ADALAH TERORIS. Penerbit Pustaka Qoulan Sadida-Malang.